Mengenal Bahaya Difteri pada Anak dan Balita


Belakangan ini wabah difteri kembali muncul di Indonesia dan sudah banyak korban nyawa yang berjatuhan akibat terserang penyakit ini, khususnya dari kalangan anak-anak. Penyakit difteri merupakan penyakit yang sangat menular, akibat infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir di hidung dan tenggorokan. Kebanyakan yang terserang difteri adalah anak-anak dan balita, dengan jumlah sembilan puluh persen tidak mendapat vaksin difteri sebelum usia 1 tahun yang disebut vaksin DPT. Vaksin DPT tidak hanya bermanfaat untuk mencegah bahaya difteri pada anak, namun juga mencegah tetanus pada anak dan cara mengatasi batuk pada anak terutama batuk rejan.

Penyebab Difteri pada Anak
Penyakit difteri menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia, karena sangat berbahaya dan penularannya yang sangat cepat dapat membuat penyakit ini meluas dengan waktu yang singkat. Difteri merupakan salah satu penyakit yang muncul akibat bahaya bayi tidak diimunisasi, karena itu orang tua wajib memberikan imunisasi pada anaknya dan mengetahui jenis-jenis imunisasi dan manfaatnya demi kebaikan anak. Imunisasi menjadi cara meningkatkan kekebalan tubuh anak yang paling tepat sehingga anak terhindar dari penyakit berbahaya seperti difteri.
Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang penyebarannya sangat mudah dan cepat. Jika terdapat satu orang anak saja yang terkena difteri, maka dengan cepat akan menular ke anak yang lain dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa di daerah tempat tinggal anak tersebut. Anak yang tidak mendapat vaksin difteri lebih rentan terkena difteri karena imunitas tubuhnya tidak cukup kuat untuk melawan bakteri yang masuk ke dalam tubuhnya. Cara penyebaran bakteri tersebut yang paling sering adalah percikan ludah penderita yang mengenai orang lain saat ia bersin atau batuk. Atau bisa juga melalui kontak langsung pada benda yang sudah terdapat bakteri penyebab difteri.

Gejala dan Bahaya Difteri pada Anak
Anak yang terserang difteri biasanya tidak langsung merasakan gejalanya, namun biasanya difteri menunjukkan beberapa gejala yang muncul di sekitar hidung dan tenggorokan, dan sering dianggap sebagai penyebab radang tenggorokan pada anak. Gejala difteri juga sering dianggap sebagai bronkitis akut dan kronis pada bayi dan anak karena menunjukkan gejala batuk dan sesak napas. Jika difteri terlambat ditangani anak dapat meninggal dunia akibat sesak napas dan menyebarnya racun di dalam darah. Beberapa gejala difteri yang paling sering muncul yaitu:
  • Pilek yang cukup parah dan lendir yang keluar dari hidung bisa bercampur dengan darah.
  • Anak mengalami kelelahan dan tubuh terasa sangat lemas.
  • Merasakan sakit di tenggorokan dan terkadang suara menjadi serak, yang juga merupakan bahaya anak kurang minum air putih.
  • Terbentuk lapisan abu-abu pada tenggorokan hingga menyelimuti amandel.
  • Anak mengalami demam dan menggigil.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
  • Anak bernapas dengan cepat dan sesak napas.
  • Muncul borok jika bakteri difteri menyerang kulit anak.
Pengobatan Difteri
Penyakit difteri harus segera diobati saat anak terdiagnosis agar penyakit tersebut dapat disembuhkan. Terlambat mendapat penanganan dapat menyebabkan nyawa anak terancam karena difteri dapat merenggut jiwa. Saat anak terkena difteri, ada beberapa pengobatan yang perlu dilakukan yaitu:
  1. Dokter akan memasukkan anak tersebut ke ruang isolasi agar difteri tidak menular ke orang lain.
  2. Setelah berada di ruang isolasi anak akan diberikan antibiotik selama dua minggu, dan bisa ditambah jika setelah dua minggu masih ditemukan bakteri difteri dalam tubuhnya.
  3. Pemberian antitoksin juga diperlukan karena bakteri difteri menghasilkan racun yang mengalir dalam pembuluh darah. Jika tidak dibersihkan racun tersebut dapat menyerang jantung dan ginjal sehingga menyebabkan penyakit komplikasi.
  4. Setelah dinyatakan sembuh, anak juga akan diberikan vaksin difteri untuk mencegah penyakit tersebut menyerang kembali.
  5. Kemungkinan dokter juga akan melakukan pengangkatan lapisan abu-abu di tenggorokan jika anak mengalami sesak napas. Jika terjadi borok maka borok harus dibersihkan dengan teliti menggunakan air dan sabun antiseptik.
Pencegahan Difteri
Cara melindungi anak dari difteri yang paling efektif adalah dengan memberikannya vaksin DPT saat imunisasi, untuk mencegah  difteri, pertusis atau batuk rejan dan tetanus. Pemberian vaksin dilakukan pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun dan lima tahun. Vaksin tersebut harus diberikan secara lengkap agar anak mendapat perlindungan yang optimal. Jika anak mendapat vaksin yang lengkap, maka seumur hidup anak akan terlindungi dari penyakit difteri yang mengancam nyawa anak.
Bahaya difteri pada anak memang sangat mengerikan dan kita sebagai orang tua harus bisa memberikan perlindungan terbaik bagi anak dengan mengikutsertakan anak dalam imunisasi. Imunisasi juga menjadi cara mencegah wabah difteri berkembang di Indonesia, dan jika semua orang tua sadar akan pentingnya imunisasi maka difteri dapat dimusnahkan.

Penyebab dan Gejala Penyakit Difteri Pada Anak


Difteri merupakan salah satu jenis penyakit menular yang menginfeksi saluran pernapasan atas. Bahkan pada sebagian kasus, difteri menginfeksi kulit dan selaput lendir. Bakteri penyebab penyakit difteri yaitu Corynebacterium diphteriae. Pada awalnya gejala difteri yaitu ditandai dengan terbentuknya lapisan pada selaput lendir di bagian saluran napas. Disamping itu, adanya kerusakan pada bagian otot jantung dan sistem saraf.
Pada umumnya gejala difteri pada anak yaitu sesak nafas, panas, sakit tenggorokan pada waktu menelan makanan, adanya selaput warna putih pada tenggorokan dan terjadi pembengkakan. Untuk lebih rincinya, berikut ini beberapa gejala difteri pada anak.
  • Terjadi pembengkakan kelenjar limfa pada bagian leher.
  • Demam dan menggigil.
  • Lemah dan lemas.
  • Kesulitan bernafas atau bernafas cepat.
  • Hidung selalu mengeluarkan lendir, bahkan sesekali terdapat darah dalam lendir tersebut.
  • Adanya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Tenggorokan sakit disertai suara serak.
Biasanya penyakit difteri pada anak hanya bersifat ringan saja. Namun kondisinya akan semakin parah jika kondisi tubuh anak semakin melemah dan merasakan sakit ketika menelan. Disamping itu, akan terjadi pembengkakan pada bagian laring dan faring sehingga menyebabkan terhambatnya saluran pernafasan. Biasanya anaka akan cenderung kesulitan untuk bernafas.
Secara umum penyakit difteri pada anak diakibatkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Mikroorganisme tersebut merupakan bakteri gram positif. Bakteri ini tahan dalam keadaan kering  dan beku. Namun bisa mati dalam proses pemanasan suhu sekitar 60 derajat celcius. Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya infeksi difteri yaitu sebagai berikut:
  • Faktor lingkungan tidak sehat sehingga memudahkan penularan dan infeksi bakteri difteri.
  • Tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap.
  • Kualitas vajksin imunisasi tidak bagus.
  • Akses pelayanan kesehatan kurang dan pengetahuan sang ibu rendah mengenai penyakit tersebut.
Penularan bakteri difteri bisa melalui percikan ludah dari orang yang menderita infeksi tersebut. Selain itu, penyakit ini bisa menular melalui benda atau makanan yang bersentuhan dengan penderita difteri. Kontak langsung dengan penderita difteri merupakan cara penularan yang paling berbahaya.
Bakteri difteri pada umumnya memproduksi toksin yang akan membunuh sel-sel pada bagian tenggorokan. Nah, ketika sel-sel tersebut mati maka akan membentuk membrane berwarna abu pada tenggorokan. Pada kondisi yang lebih parah, toksin tersebut akan masuk ke dalam darah sehingga beresiko menyerang jantung.
Penularan penyakit difteri pada anak bisa dicegah dengan beberapa cara berikut ini:
  • Imunisasi dasar lengkap (DPT-HB sebanyak 3 kali)
  • Imunisasi DT saat anak menginjak usia Sekolah Dasar
  • Lanjut imunisasi TD.
Cara lain untuk mencegah penularan tersebut yaitu:
  • Menjaga kebersihan lingkungan dan badan. Biasakan supaya anak selalu mencuci tanagn sebelum makan.
  • Hindari kontak langsung dengan penderita.
  • Menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga.
  • Menutup hidung ketika bersin.
  • Mengkonsumsi makanan bergizi.
Nah, itulah penjelasan singkat mengenai penayakit difteri pada anak. Pencegahan bisa dilakukan sejak dini dengan mengikuti program imunisasi lengkap. Selain itu, untuk menunjang kesehatan si kecil sebaiknya Anda memberikan asupan makanan yang bergizi.

ASI Tidak Keluar Sejak Kelahiran Anak Kedua, Bagaimana Solusinya?


Jakarta, Selamat siang, saya mau tanya bagaimana metode pengobatan atau tindakan yang harus saya lakukan agar ASI (Air Susu Ibu) istri saya bisa keluar atau produksi ASI lagi karena satu bulan terakhir ASI istri saya sudah tidak keluar lagi. Sejak kelahiran anak saya yang kedua produksi ASI istri sangat sedikit. Anak saya sudah berumur dua bulan.

Farok (Laki-laki, 39 tahun)

Jawaban

Selamat siang Bapak Farok, terimakasih atas pertanyaannya. Produksi ASI yang berkurang dapat disebabkan banyak hal. Penyebab yang pertama adalah penggunaan pengganti ASI (PASI) seperti susu formula. Bayi yang sudah diberikan susu formula akan kenyang oleh susu formula tersebut, sehingga saat diberikan payudara ia tidak mau menghisap dengan lahap. Hisapan yang berkurang ke payudara akan membuat rangsangan produksi ASI menjadi berkurang, dan akhirnya tidak keluar lagi.

Berkurangnya produksi ASI juga dapat disebabkan penggunaan dot atau empeng. Penggunaan dot atau empeng akan mengubah pola hisapan bayi sehingga bayi tidak dapat menetek ke payudara dengan efektif karena bayi cenderung akan menetek di puting saja, atau menolak menetek sama sekali. Hisapan yang kurang efektif juga akan membuat rangsangan ke payudara berkurang, sehingga produksi ASI juga akan berkurang. Hal lain yang menyebabkan berkurangnya produksi ASI adalah kelainan anatomis mulut bayi yang membuat bayi sulit untuk menetek dengan efektif.

Agar produksi ASI menjadi banyak, bayi perlu bisa menghisap payudara dengan baik. Payudara yang sering dihisap dengan efektif akan bertambah produksi ASI-nya. Jadi prosesnya bukanlah menunggu sampai ASI bertambah banyak barulah disusui ke bayi, tetapi bayi dapat menghisap dengan baik barulah kemudian produksi ASI akan berangsur-angsur bertambah.

Untuk dapat menyusui kembali (relaktasi), sebaiknya bapak, istri, dan anak bapak datang ke klinik laktasi untuk dilakukan penilaian terhadap proses menyusui, status gizi bayi, dan pemeriksaan apakah ditemukan adanya kesulitan lainnya selama menyusui. Jika pada saat pemeriksaan ditemukan kesulitan menetek pada bayi, sebaiknya segera dilakukan penatalaksanaannya. Hal yang penting juga untuk dilakukan adalah menghentikan penggunaan dot atau empeng jika sebelumnya bayi pernah menggunakannya.

dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC
Dokter Laktasi dan Ibu Menyusui di RS Permata Depok
Ketua Tim Laktasi RS Permata Depok
Koordinator Pelatihan Manajemen Laktasi Perinasia Pusat
www.rspermatadepok.com

Agar Terbiasa Makan Sayur, Ini 4 Trik yang Bisa Dilakukan Pada Anak


Jakarta - Makan buah dan sayur penting bagi pemenuhan gizi anak dan keluarga. Namun tak jarang ditemui masyarakat yang menganggap buah dan sayur hanya sebagai pelengkap makanan.

"Makan buah dan sayur bukan hanya supaya lancar buang air besar lho. Makan sayur dan buah sudah terbukti melalui penelitian bisa mengurangi risiko ibu darah kental, berat badan bayi lahir rendah hingga retinoblastoma," tutur dr Tan Shot Yen, dalam temu media Hari Kelainan Bawaan di Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Untuk itu, dr Tan mengatakan makan buah dan sayur harus menjadi bagian penting dalam keseharian keluarga Indonesia. Agar bisa tercapai, berikut 4 trik yang bisa dilakukan:



1. Makan bersama di sekolah
dr Eni Gustina MPH, Direktur Kesehatan Keluarga, Kemenkes RI, mengatakan salah satu program yang sedang diuji-coba oleh Kemenkes adalah penguatan UKS dan Kantin Sehat di sekolah. Siswa diharapkan makan makanan yang sudah disiapkan kantin atau membawa bekal dari rumah untuk menghindari jajan sembarangan.

"Kalau makan bersama kan nanti ada keinginan bersama. Wah teman saya makan sayur, saya juga nggak boleh kalah dong makan sayur juga," tutur dr Eni.


2. Variasi MPASI
Salah satu penyebab anak ogah makan buah dan sayur bisa saja karena menu sayur yang dimasak
itu-itu saja. Untuk itu, dr Tan menekankan pentingnya variasi menu makanan, bahkan sejak fase makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

"Ini juga penting untuk posyandu, jangan kacang ijo lagi, kacang ijo lagi. Juga saat memberikan MPASI jangan bikin anak tersedak nanti dia jadi trauma dengan sayur," paparnya.


3. Bermain dengan makanan
Menurut peneliti dari De Montfort University, Leicester, kunci untuk membuat anak-anak mau makan sayur dan buah adalah tidak menekan mereka untuk melakukannya. Trik berikutnya adalah membiarkan mereka 'bermain' terlebih dahulu.

'Permainan sensorik' inilah yang kemudian membuat anak tak lagi melihat sayur dan buah yang selama ini dibencinya sebagai makanan yang tidak enak atau pahit.

Bahkan anak-anak yang sempat bermain-main dengan buah dan sayur tadi tak lagi perlu didorong, apalagi dipaksa untuk memakannya. Secara alami mereka mengonsumsi bahan-bahan makanan tersebut sesaat selepas percobaan.


4. Padanan rasa yang cocok
dr Tan mengatakan salah satu cara mencoba membiasakan anak mengonsumsi sayuran yakni dengan mencari pasangan makanan yang cocok dengan sayur tersebut. Ia memberi contoh ayam bakar dengan sayur lalapan.

"Kalau makan sayur sama lalapan kan nggak jodoh. Makannya cari jodoh makanannya (seperti lalapan yang cocok disantap dengan ayam bakar) biar anak mau makan," sambung dokter sekaligus penulis buku 'Anak Sehat Indonesia' ini.
sumber : https://health.detik.com/read/2017/03/21/090326/3452184/1301/5/agar-terbiasa-makan-sayur-ini-4-trik-yang-bisa-dilakukan




Olahraga yang Tidak Dianjurkan untuk Ibu Hamil

Olahraga yang Tidak Dianjurkan untuk Ibu Hamil
Olahraga yang Tidak Dianjurkan untuk Ibu Hamil
Jakarta, Rutin berolahraga selama hamil memiliki banyak manfaat bagi ibu hamil, tak hanya untuk si ibu saja tetapi juga untuk si kecil. Tapi, perlu diperhatikan lagi olahraga apa saja yang aman dan tidak aman dilakukan ketika ibu tengah berbadan dua.

Profesor sekaligus kepala department of obstetrics, gynecology, and women's health di St. Louis University School of Medicine, Raul Artal, MD menuturkan ada beberapa olahraga yang sebaiknya tidak dilakukan ibu hamil. Trampolin dikatakan Artal tidak direkomendasikan karena adanya risiko ibu hamil jatuh saat melambungkan tubuhnya.

"Keseimbangan tubuh saat hamil tidak terlalu baik. Ditambah pula dengan tidak seimbangnya pusat gravitasi, maka ketika Anda melompat-lompat di trampolin, risiko ibu terjatuh lebih besar dan itu berbahaya bagi ibu juga bayi," tutur Artal, dikutip dari Fit Pregnancy.

Selain trampolin, Artal juga tak menyarankan ibu hamil melakukan hot yoga atau Birkham yoga. Kelas yoga seperti itu umumnya dilakukan di ruangan dengan suhu sampai 100 derajat celcius. Padahal, setiap kegiatan yang mengarah ke overheating dikatakan Artal tidak baik selama kehamilan.

Pasalnya, mengekspos janin dengan suhu tinggi bisa menyebabkan hipertermia yang pada akhirnya dapat menyebabkan cacat lahir atau persalinan prematur. Selain itu, hot yoga juga membuat ibu berisiko dehidrasi. Olahraga yang melibatkan kontak dengan orang lain juga baiknya disetop selama ibu mengandung.


"Olahraga dengan adanya kontak dengan orang lain seperti tinju, sepak bola, futsal, hoki, atau basket mesti dihindari. Sebab, tak hanya cedera tapi juga bisa terjadi risiko pemisahan plasenta prematur dan komplikasi lain. Kontak dengan orang lain yang tak terprediksi pun berbahaya," tutur Artal.

Selama mengandung, sendi dan ligamen wanita menjadi lebih lentur. Sehingga, mengangkat beban yang terlalu berat bisa menyebabkan kerusakan permanen pada sendi dan ligamen. Untuk itu, Artal tak menyarankan ibu hamil melakukan angkat beban. Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa dan sudah berkonsultasi dengan dokter sebelumnya, boleh saja melakukan itu.

Dalam melakukannya, menurut Artal pun tak perlu ada penambahan beban yang diangkat. Selain itu, lakukan latihan dengan didampingi personal trainer yang bisa menyesuaikan porsi latihan dengan kondisi ibu yang sedang hamil. Kemudian, baiknya ibu hamil tidak melakukan latihan dengan intensitas tinggi.

"Peningkatan detak jantung yang terlalu cepat pasti tidak aman selama masa kehamilan. Nah, latihan intensitas tinggi bisa mengalihkan aliran darah dari organ dalam misalnya rahim ke otot. Akibatnya, pertukaran oksigen dan nutrisi untuk janin terganggu. Peningkatan detak jantung saat hamil selama beberapa menit mungkin tidak masalah, tapi jika terlalu lama, itu bisa bahaya," papar Artal.

Obat Batuk Bukan Bikin Sembuh, Tetapi Malah 'Fly''/ Mabuk ?

Obat Batuk Bukan Bikin Sembuh, Tetapi Malah 'Fly''/ Mabuk ?
BPOM menarik obat yang mengandung dekstometorfan tunggal, termasuk pada obat batuk hingga akhir Juni 2014. Dekstometorfan pada obat batuk digunakan untuk mempengaruhi susunan syaraf dalam meringankan batuk yang tidak berdahak.

Dari daftar yang dikeluarkan oleh BPOM, banyak terdapat obat sediaan tunggal yang ditarik dengan nama dekstometorfan, tetapi banyak juga yang diketahui masyarakat sebagai obat batuk umum, ternyata mengandung dekstometorfan tunggal. Diantaranya adalah obat batuk Vicks Formula 44 DT, Komix DT, Bisolvon antitusif, Metadex, Siladex, dst. Daftarnya bisa lihat disini.

Alasan BPOM menarik obat-obat tersebut karena beberapa tahun ini terdapat laporan penyalahgunaan obat dekstometorfan untuk 'fly',  karena dalam dosis besar bisa menyebabkan efek euforia, halusinasi penglihatan dan pendengaran. Kemudian terjadi efek lain berupa kelelahan, bicara kacau, hipertensi, mata melotot.

Yang mengerikan, BPOM menyebutkan bahwa penyalahgunaan obat ini pada anak-anak dan remaja cukup memprihatinkan. Anak-anak? Remaja? Terjadi bertahun-tahun? Mengapa baru sekarang ditarik? Padahal Badan Narkotika (BNN) sudah menyebutkan sejak 3 tahun lalu, penyalahgunaan oleh remaja dan mahasiwa mencapai 9,7%.

Apalagi pada tahun 2008 sebenarnya WHO (World Health Organization) sudah menyatakan bahwa obat ini sebagai obat tidak aman dan mengkhawatirkan. Ok deh, pada akhirnya BPOM pun menarik obat ini. Tetapi mengapa diberi waktu hingga akhir Juni 2014 kepada publik? Bukankah ini malah memicu para pengguna dan pemakai obat ini dengan tujuan 'fly' untuk membeli sebanyak-banyaknya sebelumnya benar-benar ditarik?

Pasar obat bebas (OTC atau over the counter, bisa dibeli bebas tanpa resep dokter) memang tumbuh cukup tinggi di Indonesia, yaitu 8,6% atau senilai Rp 6,3 Trilyun. Dan obat yang paling banyak dikonsumsi adalah vitamin (56%), kemudian disusul obat batuk, sebesar 22% atau senilai Rp 1,4 Trilyun. Dan kontribusi pembelian obat batuk bebas ini kebanyakan adalah kelas bawah sebesar 43% dan kelas menengah sebesar 30%.

Ini berarti, batuk merupakan penyakit yang umum diderita oleh masyarakat. Maklum, polusi asap kenderaan maupun asap rokok demikian pekat di negara ini. Kurang minum, kurang makan buah, atau makan yang terlalu berminyak juga suka memicu batuk.

Padahal, kalau menurut dokter sepuh, dokter keluarga ponakan saya (tadinya dokter keluarga bapaknya), batuk biasa sebenarnya tidak perlu diobati. Cukup bangun pagi, keluar rumah menghirup udara segar sambil olahraga. Kemudian berjemur di mentari pagi, maka badan akan segar dan sehat. Makanya para ponakan saya tidak ada yang minum obat batuk. Nanti juga sembuh sendiri. Tentu saja ini bukan batuk TBC, kalau ini mah pengobatannya malah bukan dengan obat bebas, tetapi terapi khusus ke dokter.

Yang penting, kritislah sebelum membeli obat bebas yang penuh dengan bahan kimia. Baca komposisinya. Yang ditarik oleh BPOM adalah sediaan tunggal, tetapi ternyata yang campurannya tidak ditarik. Padahal banyak obat batuk yang salah satu bahan campurannya juga dekstometorfan ini. Sayangi ginjal, hati jika terlalu dibebani dengan obat kimia terlalu sering.

sumber : http://www.kompasiana.com/ilyani/obat-batuk-bukan-bikin-sembuh-tetapi-malah-fly_54f71952a333116e218b47e0

Dengan USG, Risiko Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah Bisa Dideteksi

Dengan USG, Risiko Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah Bisa Dideteksi
Risiko Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah Bisa Dideteksi dengan USG
Jakarta, Bayi yang lahir dengan berat badan rendah ketika dewasa lebih berisiko mengalami penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung. Mereka juga rentan terkena diabetes dan mengalami obesitas. Untuk mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah, maka kecukupan nutrisi ibu selama hamil harus dipenuhi.

Nah, diungkapkan pakar fetomaternal dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Med Damar Prasmusinto SpOG(K), berat badan lahir rendah bisa dideteksi sejak di kandungan. Caranya, dengan rutin melakukan pemeriksaan USG minimal tiap trimester kehamilan.

"Dengan USG kita bisa lihat pertumbuhan si bayi sesuai nggak dengan kurva normal. Kan di hasil USG ada tuh berat bayi di bulan ke sekian berapa gram, kemudian di bulan berikutnya berapa gram," kata dr Damar ditemui di Klinik Fetomaternal RSCM, Jl Kimia, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2015).

Berat badan bayi yang terdapat di hasil USG kemudian perlu dimasukkan dalam kurva tumbuh kembang janin. Dengan begitu, bisa dilihat apakah bayi mengalami kelambatan pertumbuhan atau sebaliknya, kelebihan pertumbuhan.

"Kalau pertumbuhannya melambat misalnya, dicari apa sebabnya. Seringnya sih karena masalah nutrisi ya, kekurangan nutrisi. Kalau begitu ya perlu dievaluasi lagi pola makan ibunya bagaimana," lanjut dokter berkacamata tersebut.

Selama hamil, kecukupan nutrisi ibu harus dipenuhi, termasuk untuk makronutrien dan mikronutrien yang perannya saling berkaitan. Misalnya saja, siklus biokimia asam folat memerlukan vitamin B12 dan B6. Sehingga, ketika asam folat sudah mencukupi tapi ibu kekurangan vitamin B6 dan B12, maka manfaat asam folat untuk perkembangan janin tak bisa optimal.

Begitu juga zat besi yang penyerapannya akan lebih optimal jika ibu cukup mendapat asupan vitamin C. Nah, cara memenuhi kesinambungan mikronutrien dan makronutrien tersebut menurut dr Damar tak lain adalah dengan mengasup makanan bergizi seimbang.

"Jangan lupa bahwa general check up pada anak itu penting. Sehingga, saat ketahuan dia defisiensi (zat-red) apa, bisa diperbaiki lebih dini," pungkas dr Damar.

Bahaya Permainan Mandi Bola Bagi Anak

Bahaya Permainan Mandi Bola Bagi Anak

Sebenarnya untuk memberikan hiburan kepada anak-anak itu boleh-boleh saja, bahkan itu sangat baik, akan tetapi yang perlu diperhatikan, tentunya Anda sebagai orang tua atau kakak yang sedang mengasuh sang adik yang masih kecil, maka sangatlah perlu untuk memperhatikan keamanan dan kebersihan dari sarana hiburan untuk Anak-anak.

Seperti adalah satunya sarana permainan anak-anak yang perlu mendapat kritik, yaitu Mandi Bola. Permainan tersebut memang sangat menyenangkan untuk Anak-anak, akan tetapi permainan tersebut bisa menjadi tempat yang berbahaya untuk sang anak jika tempat mandi bola tersebut tidak dibersihkan. Inilah yang menjadi masalah.

Saya akan menyebutkan beberapa kisah tentang permainan mandi bola ini, seringkali ada banyak keluhan dan kisah permainan ini, yang diceritakan oleh para orang tua yang anaknya menjadi korban, dan orang-orang yang melihat anak tetangga yang menjadi korban.

Seperti seseorang yang share tentang sebuah kejadian yang menimpa anak tetangganya, di daerah Bandung.  Dia menceritakan, ketika hari libur itu biasanya para orang tua akan mengajak anak-anaknya liburan atau bermain. Nah, tetangganya itu memiliki seorang anak perempuan yang umurnya sekitar 3 atau 4 tahun.

Sang orang tua mengajak anaknya untuk mandi bola di mal BSM, kota Bandung. Ada saat bermain bola, anaknya masih sehat, demikian juga keesokan harinya dia juga masih sehat, Dia masih bisa sekolah Pre-School (semacam TK kecil, atau dibawahnya lagi). Saat pulang sekolah juga dia Masih sehat.

Hingga masuk kedua dan ketiga dari waktu bermain permainan mandi bola itu, dia masih baik-baik saja, mungkin ada sedikit gejala kecil (yang tidak terlalu dirasakan), akan tetapi namanya anak-anak yang umurnya masih 3 atau 4 tahun,  belum bisa menyampaikannya kepada orang tuanya.

Nah pada hari keempat ini, dari waktu bermain mandi bola. Tiba-tiba tanpa suatu gejala, anak tersebut tidak bisa berjalan. Pas ditanya, Anak itu juga tidak mengeluh ada bagian tubuhnya yang sakit. Anak itu hanya dengan polosnya berkata ke ibunya "mama.. kok Riska ngga bisa jalan ya ma".
Dan akhirnya, Ibunya pun membawanya ke sebuah Rumah sakit di Bandung. Setelah diperiksa oleh dokter, maka dokter mengambil kesimpulan bahwa Risma (sang anak) terkena kuman. Kemudian pada besok harinya, Riska dirujuk ke RS.Hasan Sadikin karena disana terdapat DSA (dokter spesialis anak), yang tentunya sudah sering untuk menangani kasus seperti ini. 

Setelah diteliti lebih dalam, maka DSA di Hasan Sadikin menemukan bahwa Riska terkena virus, yang virus tersebut menyebar melalui sumsum tulang belakang, hingga akhirnya virus tersebut pada akhirnya akan merambat ke otak.

Menurut sang dokter khusus spesialis anak tersebut , virus yang menyerang sang anak ini masih sangat jarang ditemukan di Indonesia, sehingga belum diwajibkan sama IDAI. Dan dokter juga menambahkan bahwa penyebaran virus ini sangat rentan untuk menyerang balita dan orang tua di atas umur 60 tahun.

Kemudian sang Anak dirawat dengan disuntik pada setiap harinya, biaya menyuntiknya tersebut sangat tinggi . Sang Dokter tidak bisa menjamin apa-apa, karena memang kondisi sang anak sudah cukup parah, sang Dokter hanya berusaha untuk mencegah penyebaran virusnya tersebut.

Sang Ibu bertanya tentang asal virus, karena beberapa hari yang lalu sang anak memang bermain mandi bola, maka sang dokter menaggapi bahwa penyebabnya belum tentu karena permainan mandi bola.

Akan tetapi ketika Ibu sang anak bercerita dengan kakak iparnya, maka ternyata ada kejadian serupa dimana  anak teman kantornya terkena virus yang sama, dan kejadiannya juga setelah bermain mandi bola juga.

Menurut DSA dari teman kakaknya, bahwa tempat mandi bola itu memang menjadi tempat penularan virus apapun dengan sangat cepat, hal ini karena tempat mandi bola merupakan tempat umum.

Ditambah lagi, pihak dari taman bermain itu jarang mencuci bolanya, dan dalam keadaan ruangan yang tertutup dan juga lembab (tidak terkena sinar matahari), maka tempat mandi bola memang menjadi tempat bersemayam-nya virus, terutama jika tempat tersebut jarang dibersihkan.

Dengan cerita ini tentunya orang tua perlu waspada ketika mengajak anaknya bermain mandi bola, pastikan bahwa tempat bermain mandi bola tersebut memang rutin dibersihkan.

Kisah kedua
Untuk kisah kedua, maka terjadi di Negara Amerika Serikat pada Tahun 1998, sudah lama sekali memang. Untuk kasus kedua ini, memang berbau sarbotase. Orang yang bercerita ini tinggal di Plano, daerah Texas. Pernah suatu kejadian atau bahkan beberapa kali, bahwa Anak-anak yang bermain mandi bola baik itu yang di restoran atau di mall, digigit oleh ular (jenis Rattler Snake).

 Kejadian tersebut di dalam tempat bermain mandi bola, disana Rattler Snake bertelur dan bahkan telah beranak pinak pada bola-bola bagian bawah. Selain ular, ada juga kejadian anak  yang digigit serangga dan yang lainnya. 

Kisah ketiga 
Ini adalah kisah yang nyata, dimana seseorang mendapat dari milis HIMASAD (HIMA Sastra Jerman UNPAD), yang berdasarkan pengalaman salah satu temannya, kehilangan putranya yang berumur 3 tahun.

Kejadian tersebut ketika ada sebuah pesta ulang tahun seorang anak di McDonalds, setelah selesai makan, sang anak bermain di kolam bola. Dan tidak lama kemudian, terdengar suara si anak yang berteriak kesakitan. Dia mengatakan bahwa pantatnya terasa sangat sakit, seperti tertusuk sesuatu benda.

Dan setelah di lihat oleh ibunya, ternyata terdapat sebuah bilur merah kecil. Beberapa hari kemudian sang ibu mulai merasakan ada yang tidak beres pada memar di pantat anaknya tersebut yang semakin membengkak. Dan yang lebih parahnya, sang anak terlihat mulai menggigil, gemetar, muntah-muntah, dan matanya juga berputar ke belakang.

Karena itu, segera sang anak harus dibawa ke rumah sakit, dan sang anak harus di rawat di ICU, akan tetapi anak yang malang tersebut harus meninggal pada malam itu juga. Dan hal yang sangat mengagetkan adalah ketika dokter menyatakan bahwa kematian sang anak itu karena overdosis heroin.

Tentunya sang ibu akan merasa tidak percaya. Tetapi setelah polisi memeriksa kolam mandi bola di restoran fast food tersebut, maka ditemukan beberapa jarum suntik. Sebagiannya sudah digunakan, dan bahkan ada beberapa yang masih dalam keadaan dosis penuh. 

Kemudian pada tumpukan bola-bola juga ditemukan banyak bekas makanan, pisau-pisau kecil, dan beberapa lainnya yang menjijikan, saya tidak perlu menyebutkannya. Dan setelah dintrogasi pada manager restoran tersebut, maka dia pun mengakui bahwa tempat bermain tersebut hanya dibersihkan beberapa kali dalam setahun.

Kisah Keempat
Kisah keempat atau yang terakhir ini juga hampir sama dengan kisah diatas yang urutan kedua. Diceritakan bahwa seorang anak kecil sedang bermain permainan mandi bola di Burger King, dan sang anak mulai mengeluh lengannya yang terluka. 

Ternyata benar, telah ditemukan di tangannya yang menderita gigitan ular di sekitar lengan dan pantatnya. Dan akhirnya yang menyedihkan, sang anak akhirnya meninggal dunia. Dan ketika kolam bola dibersihkan, maka ditemukan sarang ular berbisa di dasar kolam bola tersebut. Dan sang Anak kecil telah menderita sejumlah gigitan dari ular-ular berbisa tersebut. Kemungkinan besar kasus ini, merupakan sebuah sarbotase.

Nah, setelah membaca empat kisah diatas, maka sangat perlu tampaknya orang tua untuk menjamin bagi sang anak bahwa tempat permainan mandi bola tersebut memang aman. Semoga bermanfaat.

Bahaya Virus Toksoplasma Bagi Ibu Hamil dan Janin

Bahaya Virus Toksoplasma Bagi Ibu Hamil dan Janin

Toksoplasma adalah penyakit yang biasanya menyerang janin yang ada di dalam kandungan anda. Toksoplasma disebabkan oleh sebuah virus bernama toksoplasma gondii virus ini biasanya hidup sebagai parasit pada beberapa jenis hewan seperti anjing, kucing, kelinci dan babi. Selain itu, media penularan toksoplasma juga dapat berasal dari makanan yang mentah atau kurang matang atau dari buah – buahan dan sayuran yang sudah tercemar kotoran dari hewan yang sudah terjangkit toksoplasma gondii. Selain penularan diatas ternyata virus ini juga dapat ditularkan lewat transfusi darah, gigitan serangga seperti nyamuk atau juga lewat transplantasi organ karena pada umumnya, Virus toksoplasma gondii dalam bentuk tachizoid berada di dalam darah, air liur, cairan sperma  dan cairan tubuh lainnya.
Sebenarnya tubuh memiliki sistem imunitas yang cukup bagus untuk menangkal virus toksoplasma, namun ketika daya tahan tubuh mulai menurun maka toksoplasma dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh kita. walaupun demikian virus yang satu ini tidak dapat dianggap remeh jika menyerang wanita yang sedang hamil. Apabila wanita yang sedang hamil dan terinfeksi toksoplasma maka dapat menyebabkan keguguran atau mungkin janin selamat tetapi terdapat cacat pada janin yang dikandung. Wanita hamil yang terinfeksi virus toksoplasma selama kehamilan ataupun saat dimana baru akan dimulainya kehamilan memiliki resiko besar untuk menularkan toksoplasma kepada janin yang dikandungnya. Senmakin tua usia kehamilan, maka semakin tinggi resiko janin tertular virus toksoplasma, tetapi semakin muda janin terkena tokosplasma maka semakin besar manifestasi klinisnya.
Selain resiko pada wanita yang sedang hamil, resiko pada janin yang dikandungnyalah yang jauh lebih besar. Resiko yang ditimbulkan dapat berupa cacat atau bahkan kematian.indikasi adanya toksoplasma dapat diketahui dengan pemeriksaan USG yang menunjukan atau memperlihatkan adanya cairan berlebih pada perut, pengapuran pada otak atau dapat juga dengan terjadinya pelebaran saluran otak.  Kemingkinan yang teradi pada janin ketika terkena toksoplasma adalah terjadinya kelainan pada sistem saraf tubuh seperti penglihatan dan pendengaran. Atau dapat berakibat juga pada terganggunya gangguan fungsi saraf pusat yang mengakibatkan gangguan pada kecerdasan atau otak. Selain itu lahir dengan organ yang tidak lengkap juga sering terjadi seperti bayi lahir tidak memiliki tempurung kepala atau istilah medis menyebutnya enchepalus atau hydrocephalus. Dan hal terburuk yang dapat terjadi adalah kematian.
Karena banyaknya resiko yang harus kita ambil, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mencegah virus toksoplasma ini menyerang kita. hal yang paling awal yang harus dilakukan adalah memeriksakaan kesehatan kita sebelum ataupun sesudah menikah dan sebelum atau sesudah melahirkan, kurangi kontak dengan hewan peliharaan seperti anjing atau kucing , konsumsi makanan yang benar – benar bersih dan matang, cucilah tangan setelah atau sebelum melakukan aktifitas teruama yang berhubungan dengan makanan,  pada saat hamil periksalah secara rutin kondisi anda dan janin agar pencegahan dinni terhadap virus toksoplasma gondii segera dapat diakukan.

Popular Posts