Cerita Betawi, Kisah Dul Icong Dibantai Gerombolan Garong (Bagian-2, Tamat)

Ilustrasi Gambar

PADA zaman setelah kemerdekaan, keamanan di Jakarta sungguh mahal karena banyaknya gerombolan garong di beberapa wilayah. Namun ada satu centeng mumpuni yang sulit sekali ditaklukan oleh gerombolan garong. 

Seperti dikutip dari blog Bang Mandor, Centeng tersebut adalah Dul Icong seorang warga China yang kemudian masuk Islam. Perawakannya kecil sebagaimana leluhurnya, ia berkulit putih bersih dan bermata kubil (sipit).

Ilmu pukul Betawinya sangat mumpuni, bahkan badannya kedot alias tak mempan senjata tajam. Karena segala kelebihan itulah ia diangkat sebagai kepala centeng tuan tanah kaya raya dari Rawa Lele, Ceng Kim. 

Usman (baca: Cerita Betawi, Upacara Bebaritan atau Sedekah Bumi di Bambularangan) yang tewas oleh gerombolan garong adalah anak buah Dul Icong. Sebagaimana ahli sejarah menulis, setelah perang kemerdekaan selesai, di Jakarta khususnya, situasi keamanan belum stabil. Banyak gerombolan garong berkeliaran, umumnya mereka menggarong China kaya dan tuan tanah. 

Disamping garong ada juga tukang gedor atau gedoran. Gedoran berasal dari kata penggedoran atau bunyi pintu orang kaya yang digedor-gedor dan dirampas hartanya. 

Hasil gedoran selain uang dan perhiasan juga bahan kain batik dan belacu. Diantara garong-garong dan tukang gedor legendaris adalah Muhammad Item atau Mat Item, Ki Rabin, Ki Naja, Rajiih, Ki Nari, dan Jebul. Dari nama-nama itu hanya Ki Rabin yang masih hidup hingga saat ini. 

Kehebatan ilmu Dul Icong membuat gerombolan garong selalu gagal merampok Tuan tanah Ceng Kim. Hal ini membuat mereka menyimpan dendam dan selalu mencari cara membunuh Dul Icong. 

Pernah ada kejadian salah tembak, gerombolan garong mengira yang menjadi bandar judi sintir adalah Dul Icong ternyata malam itu Dul Icong digantikan Musa rekannya. Musa tewas ditembak garong di arena upacara bebaritan. 

Tidak kehabisan akal gerombolan garong menjebak Dul Icong dengan undangan kondangan palsu. Ditemani sepuluh orang rekannya diantaranya Ki Dadu dan Ki Sinin, Dul Icong dengan sepeda ontel berangkat ke Meruya untuk menghadiri undangan kawinan tersebut. Namun ketika melintasi Bendungan Polor rombongan Dul Icong rupanya sudah ditunggu puluhan garong yang menaruh dendam kepadanya. 

Bendungan atau Pintu Air polor terletak di Kampung Candulan, Kelurahan Petir Cipondoh Kota Tangerang. Tidak ada prasasti yang menyatakan dibangunnya, yang pasti sudah dibangun sejak zaman Belanda. 

Dahulu jalan ini adalah akses terdekat bagi orang ataupun pedagang dari Cengkareng ke arah selatan dan sebaliknya. Setelah Dul Icong ditangkap, seluruh rekannya dipersilahkan pulang. 

Menurut cerita yang diyakini masyarakat setempat, Dul Icong dibegal gerombolan Muhammad Item, yang selalu gagal masuk ke wilayah maja dan sekitarnya, terutama ke rumah Tuan Tanah Ceng Kim. 

Karena ilmu kedot yang dimilikinya Dul Icong sangat sulit dibunuh meskipun dikeroyok puluhan garong. Namun kehebatan Dul Icong berakhir setelah sebilah bambu hitam ditusukkan dari dubur menembus ke ubun-ubunnya. Mayatnya kemudian dibenamkan kedalam Bendungan Polor. Sampai hari ini mayat Dul Icong tidak pernah ditemukan.

Begitulah lelakon lama yang sudah lama hilang dan kita lupakan, upacara Bebaritan dan cerita dua bendungan alias pintu air, pintu air kampung Maja dan bendungan Polor. 

Sayang sekali salah satu kekayaan budaya yang pernah hidup ditengah-tengah masyarakat kita ini harus punah, upacara Bebaritan terakhir di adakan masyarakat Bambularangan sekitar tahun 1984 yang lalu. 

Menurut Ki Mangkat, salah seorang pelaku upacara bebaritan, salah satu penyebab hilangnya upacara ini adalah masuknya listrik ke wilayah Bambularangan, lampu penerangan jalan yang terang benderang membuat kali tidak angker lagi.

sumber : https://metro.sindonews.com/read/1235656/173/cerita-betawi-kisah-dul-icong-dibantai-gerombolan-garong-bagian-2-tamat-1504175841/13

Cerita Betawi, Upacara Bebaritan atau Sedekah Bumi di Bambularangan (Bagian ke-1)

Ilustrasi

BANYAK sekali budaya nenek moyang Betawi yang mulai ditinggalkan oleh keturunannya. Salah satunya adalah upacara Bebaritan atau upacara sedekah bumi yang biasanya dilakukan di atas jembatan beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri dan menjelang panen padi.

Upacara ini biasa dilakukan warga yang tinggal di pinggir kali agar tidak diganggu dedemit atau setan penghuni kali. Upacara ini juga biasa dilakukan warga jika ada wabah penyakit yang menyerang kampung mereka.

Dikutip dari blog Mandor Buang, pada era setelah kemerdekaan RI, warga Kampung Bambularangan, Kelurahan Pegadungan dan Cengkareng Barat, serta warga kampung tetangga biasa menggelar upacara Bebaritan agar warga tidak diganggu setan penghuni kali.

Dalam kepercayaan masyarakat Bambularangan, ada beberapa setan yang ditakuti karena kerap 'nempel' ke warga. Biasanya warga yang ketempelan ini akan kesurupan.

Beberapa setan yang cukup dikenal masyarakat sekitar Bambularangan adalah setan Usman kepala buntung, Ki Sirun, Sopiyah, setan gagu, dan setan item. Setiap setan ini memiliki riwayat sendiri yang diketahui warga sekitar.

Seperti cerita setan Usman kepala buntung. Dulunya Usman adalah seorang centeng tuan tanah di Rawa Lele bernama Ceng Kim. Usman tewas dibantai gerombolan garong yang menyatroni rumah Ceng Kim.

Usman dibunuh dengan cara mengenaskan oleh gerombolan perampok yang sangat kejam. Kemudian kepala dan tubuhnya dipisah. Kepalanya dilempar ke kali dan badannya dibuang ke sawah.

Sedangkan Ki Sirun merupakan seorang hansip dari Kampung Kapuk. Sirun tewas tenggelam ketika membuka aliran sungai agar bisa mengaliri sawah di kampungnya. Mayat Sirun ditemukan tersangkut di pintu air Haji Jaheri Kampung Maja.

Lain lagi cerita setan Sopiyah yang mayatnya ditemukan di selokan atau kali kecil anak kali Bambularangan. Kabarnya Sopiyah meninggal dunia karena penyakit ayannya kambuh saat mencuci piring dan tercebur ke selokan.

Untuk mencegah setan-setan penunggu kali itu tidak mengganggu warga kampung maka diselenggarakan upacara bebaritan. Upacara itu biasa dilakukan di kampung Maja dan gedeg wetan (jembatan beton yang dibangun di jaman Belanda) Bambularangan.      

Warga Bambularangan biasa melakukan upacara Bebaritan 2 hari setelah Lebaran dan upacara sedekah bumi tiap Jumat sore saat musim panen padi tiba.

Untuk kue-kue yang disajikan untuk upacara biasanya hasil kumpulan warga sekitar. Ada 2 orang yang ditugaskan untuk mengumpulkan kue-kue dari warga, yakni Ki Enang dan Ki Mangkat.

Dengan memikul keranjang dan kenderon, keduanya akan keliling kampung diiringi suara bedug, rebana, dan kenong yang ditabuh oleh pemuda-pemuda kampung yang mengiringi mereka. Kegiatan mengumpulkan kue dari warga ini biasa disebut Bebodoran.

Pengumpulan kue ini tidak hanya dilakukan kepada warga Bambularangan tapi juga ke tetangga kampung. Biasanya kue yang disumbangkan adalah kue khas lebaran, seperti kembang goyang, simpring, kue putu, kue satu, geplak, dodol, kue cina dan banyak lagi lainnya.

Berbarengan dengan pengumpulan kue itu, warga Bambularangan juga melakukan upacara cuci Gedeg sebelum dilakukan upacara bebaritan. Acara nyuci gedeg ini dipimpin juru kunci gedeg bernama Ki Nausin. 

Begitu kue terkumpul dan gedeg sudah bersih, kue dijejerkan di atas gedeg dengan alas tampah, piring, dan daun pisang. Setelah makanan terjejer rapi, giliran warga kampung yang duduk bersila di hadapan makanan yang berjejer itu.

Kemudian pemimpin upacara yang duduk paling ujung memulai upacara dengan tahlilan dan doa-doa. Setelah doa selesai, masing-masing orang mengambil makanan yang berada di hadapannya dan memakannya bersama-sama. Ada juga kue tujuh rupa yang diceburkan ke dalam kali. 

Upacara ini dipimpin oleh tetua kampung bernama Haji Lihun, disamping kue-kue sisa lebaran, kadang kala panitia juga menyembelih seekor kambing untuk disajikan sebagai lauk makan.

Lain di Bambularangan, lain pula di Kampung Maja. Di kampung tetangga yang terletak di sebelah barat ini, upacara diadakan sangat meriah. Upacara dipusatkan di pintu air Maja yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda. 

Seperti juga di Bambularangan, upacara Bebaritan di kampung Maja dimulai dengan permintaan logistik kebutuhan upacara. Bedanya di Kampung Maja yang diminta bukan hanya kue sisa Lebaran, tetapi juga uang. Karena upacara bebaritan di Kampung Maja, juga dipetaskan kesenian wayang kulit semalam suntuk yang disebut ngeruwat. 

Petugas pengumpul dana dan makanan adalah Mandor Saan. Sedangkan pemimpin upacara adalah tetua kampung, Ki Sinan dan Ki Saman. 

Menurut cerita Hajah Ben, istri dari Ki Sinan, jika malam tiba suasana sangat meriah banyak orang datang bukan hanya untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit, tapi juga untuk berjudi. Jenis judi yang dimainkan adalah judi sintir dan judi koprok.

sumber : https://metro.sindonews.com/read/1234146/173/cerita-betawi-upacara-bebaritan-atau-sedekah-bumi-di-bambularangan-bagian-ke-1-1503763030/13

Si Ronda Macan Betawi Ternyata Makamnya Ada Di Kapuk Kec.Cengkareng

Bagi anda yang gemar mendengar atau menonton cerita para jagoan dahulu, khususnya dari daerah Betawi, tentu tak akan merasa asing dengan sosok yang satu ini. Konon, Si Ronda sama terkenalnya dengan para jagoan Betawi lainnya, seperti Si Pitung, Ji’ih dan masih banyak lagi. Namun sayangnya hanya segelintir orang yang tahu kalau makam jagoan betawi yang satu ini ada di daerah Kapuk, tepatnya di daerah Rawa Gabus Rt.11 Rw.11 Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.
bang korong ( peci merah ) salah satu keturunan si ronda dan Kasie pembina sudin parbud jakbar bu ayu beserta staf di bantu tim pendamping dari LKM PANCAKARYA tegal alur mengunjungi makam sironda macan betawi. Karna sebagai ajuan bangunan cagar budaya yg ada di jakarta barat. Makam tersebut memiliki nilai sejarah tanah betawi. Beliau adalah salah satu pejuang indonesia

Foto : Makam Si Ronda yang dinaungi sepasang pohon kosambi

Makamnya terletak agak tersembunyi, di belakang sebuah pasar yang bernama Pasar Memble. Disanalah Si Ronda dimakamkan bersama istri dan para anak cucunya. Tempatnya tampak asri dan sejuk dengan dirindangi sepasang pohon kosambi yang tampak meraksasa, seakan-akan hendak menunjukan kerongkahannya.

Salah satu cucu dari Si Ronda Kong Bonin (80th), saat ditemui oleh Ki Lintoeh wartawan dari Indoglobal di rumahnya beberapa bulan yang lalu menuturkan, Si Ronda berasal dari daerah Kasepuhan Gunung Anten di Banten Kidul. Ayahnya adalah seorang mualim yang bernama Ki Aleng. Ia merantau ke Betawi ditemani oleh salah seorang sepupunya yang bernama Ki Jambrong. Kong Bonin bercerita kalau kakeknya itu memiliki ciri-ciri tubuh tinggi besar, kesukaannya menghisap rokok kawung, ia memakai pakaian pangsi hitam-hitam dan memakai ikat kepala, bagaimana lazimnya pakaian orang pada zaman itu. Si Ronda kemudian merasa iba melihat kenyataan bangsanya ditindas serta diperas oleh Kompeni Penjajah Belanda dan para antek-anteknya. Terlebih melihat kelakuan para tuan tanah yang semena-mena, menyita tanah rakyat serta membebani dengan blasting (pajak) tinggi.

Ia kemudian menjadi rampok yang menggasak harta para orang kaya dan tuan-tuan tanah, kemudian membagi-bagikannya kepada para penduduk. Tempat ‘maen’ Si Ronda yaitu di daerah Marunda dan Kemayoran, tepatnya di seberang kali Ciliwung. Ia merampok tidak hanya di Batavia, tapi juga kiprahnya itu sampai ke Cikarang dan Karawang. Ciri khas Si Ronda waktu merampok, yaitu memakai kedok penutup kepala dari sarung, hingga ia pun diberi julukan Si Kedok. Ulahnya tentu membuat gerah para Demang dan Ondernemeng, hingga Kompeni waktu itu menyatakan Si Ronda sebagai penjahat yang harus ditangkap hidup ataupun mati.

Namun rupanya tidaklah semudah itu menangkap Si Ronda, selain jago silat Beksi ia juga mempunyai ilmu kebal terhadap senjata tajam dan menguasai ilmu Pancasona serta konon bisa menghilang. Ditambah lagi kekompakan para penduduk yang pernah ditolongnya dalam menyembunyikan dan memberi info kepada Si Ronda apabila ada pasukan marsose yang melakukan patroli.

Si Ronda adalah sosok orang yang alim, relijius dan taat beribadah, ia merampok bukan hendak memperkaya diri sendiri, tapi semata-mata hanya ingin meringankan beban rakyat yang kehidupannya ditindas, singkatnya ia menjadi ‘maling budiman’. Selain itu orangnya ramah dan santun, tapi paling benci dengan praktek pemerasan dan penjajahan.

Namun rupanya nasib Si Ronda lebih baik dibanding dengan nasib teman seperjuangannya yaitu Si Pitung, yang harus ditembak mati dan mayatnya dimutilasi, makam dari Si Pitung pun sampai sekarang masih menjadi perdebatan. Di masa tuanya Si Ronda hidup bersama keluarganya di daerah Rawa Gabus sampai wafatnya. Si Ronda memiliki seorang istri dan 9 orang anak.

Yang unik, sebelum wafatnya Si Ronda berpesan kepada anak-cucunya yaitu tidak akan ada yang dapat keturunan ilmunya, serta memerintahkan agar mengubur semua pusaka-pusakanya yang terdiri dari golok, keris, besi kuning, batu-batu dan sebagainya. Serta ia melarang kuburannya diberi rumah apalagi dikasih kelambu, ia tak mau dijadikan keramat dipuja-puja, takut nantinya banyak orang pada datang ziarah, nampaknya ia berkehendak agar makamnya senantiasa hening dan sunyi.

Pada sekitar tahun 2000an, makam Si Ronda terancam digusur oleh salah satu pihak pengembang, namun berkat kegigihan para ahli waris, pemakaman tersebut dapat diselamatkan dan lestari sampai sekarang. Nampaknya memang dibutuhkan campur tangan dari pihak pemerintah, agar makam Si Ronda dijadikan salah satu Situs Budaya dan Sejarah agar di masa depan, para anak cucu kita masih dapat menyaksikan salah satu bukti perjuangan dari para leluhurnya dalam membela kehormatan bangsa kita.

Sebagai catatan: di daerah Kapuk dan sekitarnya terdapat beberapa situs sejarah berupa makam, diantaranya: Makam Si Ronda, Makam Kumpi Raden Jaya Supena, Makam Mpe Aseng Tuan Tanah Kapuk, Makam Kumpi Raden Agung Agus Dirin, Makam Syekh Ahmad bin Hamid. Diantara makam-makam tersebut ada yang terawat dan ada pula yang tidak terawat, bahkan ada yang sudah hilang jejaknya seperti Makam Keramat Empat, Makam Kumpi Jenggot, Makam Keramat Asem, Makam Keramat Bungur, Makam Kumpi Dago Putat Bongkok.

Selain yang berbentuk makam, ada juga yang berbentuk cerita, seperti asal mula nama Kampung Kapuk, asal mula nama Jembatan Genit, cerita Kong Haji Diin dari Kebon Kantor (Kebon Jambu sekarang), adanya asrama dan kantor kompeni di Kebon Kantor, asal mula nama Kampung Poglar, bahkan tak banyak yang tahu kalau zaman kompeni dahulu di daerah Kapuk ada jalan rel kereta api untuk angkutan hasil bumi kompeni. Semua itu adalah sejarah para pendahulu kita, yang sayang kalau sampai hilang begitu saja. Bapak Presiden Soekarno pernah berkata: “JASMERAH”, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

sumber : http://www.indoglobalnews.id/2016/05/si-ronda-macan-betawi-ternyata-makamnya_16.html

Tag : makam si pitung , sejarah si ronda macan betawi , jagoan betawi , pendekar betawi , sejarah si pitung , sejarah sayuti jago cengkareng , sejarah betawi , makam si ronda macan betawi , sabeni jago tenabang , pendekar beksi

Murtado si " Macan Kemayoran "


Murtado adalah nama dari salah seorang pendekar Betawi yang gigih melawan penjajahan Belanda hingga akhir hayatnya yang bertempat tinggal disekitar daerah Kemayoran, Jakarta Pusat dan berikut ini adalah cerita selengkapnya.

Murtado tinggal di daerah Kemayoran. Wajahnya cukup tampan, tapi yang terpenting adalah sikapnya yang santun dan berani membela orang yang lemah. Saat itu, keadaan di daerah Kemayoran kurang aman. Selain karena masih dijajah oleh Belanda, banyak pula gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang jahat. Mereka memeras rakyat kecil dan merampas hasil pertaniannya.

Sejak kecil, Murtado dididik dengan baik oleh ayahnya. Tak hanya ilmu agama dan pelajaran sekolah, tapi juga ilmu bela diri. Meskipun menguasai ilmu bela diri dengan baik, Murtado tak pernah sekali pun menyalahgunakan kemampuannya itu.

Pemimpin daerah Kemayoran pun dijadikan kaki tangan mereka. Pemimpin yang disebut dengan Bek itu sebenarnya orang pribumi, namanya Bek Lihun.

Ia dibantu oleh Mandor Bacon. Meskipun pribumi, mereka lebih membela kepentingan Belanda dari pada kepentingan penduduk Kemayoran.

Murtado sebenarnya tak tahan melihat perilaku Bek Lihun dan Mandor Bacan yang semena-mena, namun ia berusaha menahan diri. Suatu hari, kemarahannya memuncak, karena melihat Mandor Bacan yang berani menggoda kekasih Murtado pada acara derapan padi. Saat itu, Mandor Bacon ditunjuk sebagai pengawas jalannya acara itu.



"Hei Mandor Bacan, berani sekali kau mengganggu kekasihku," teriaknya sambil menghadang Iangkah Mandor Bacan.

Mandor Bacan menanggapinya dengan sinis, "Memangnya kenapa? Aku bebas mengukai wanita mana pun yang aku mau," jawabnya.

Murtado segera mengeluarkan jurus-jurus bela dirinya. Mandor Bacan tak mau kalah, tapi Murtado dengan mudah mengalahkannya. Mereka bukanlah lawan yang seimbang. Tak terima dengan perlakuan Murtado, Mandor Bacan melaporkan kejadian itu pada Bek Lihun. Bek Lihun merasa tersinggung dengan tingkah laku Murtado, ia pun mencari cara untuk mencelakai Murtado. Berbagai cara telah dilakukan untuk menjebak dan mengalahkan Murtado, tapi semuanya gagal. Akhirnga Bek Lihun menyerah, ia pun mengakui kehebatan Murtado dan memilih untuk bersahabat dengannya.

Sebagai seorang ksatria, Murtado menerima tawaran persahabatan dari Bek Lihun. Ia tak menyimpan dendam sedikit pun, bahkan bersedia membantu Bek Lihun memberantas kawanan perampok yang dipimpin oleh Warsa.

"Murtado, Belanda sudah menegurku berkali-kali. Aku dianggap tak mampu menjaga keamanan daerah kita ini. Gara-gara Warsa, penduduk kampung kita semakin miskin dan tak mampu membayar pajak. Kau mau, kan membantuku?" pinta Bek Lihun.

Murtado berpikir sejenak. Sebenarnya ia bimbang, membantu Bek Li hun berarti membantu Belanda juga.

"Bek Lihun, camkan kata-kataku. Aku mau membantumu untuk meIawan Warsa, tapi bukan untuk kepentingan Belanda. Aku merasa wajib melindungi penduduk kampung dari kekejian Warsa dan anak buahnya," kata Murtado.

"Terima kasih, Murtado. Aku tahu, hatimu pasti tak tega melihat penderitaan teman-teman kita ini," jawab Bek Lihun.

Murtado mulai menyusun strategi. Bersama Saomin dan Sarpin, ia pergi ke markas Warsa dan anak buahnya. Biasanya, Warsa dan anak buahnya berkumpul di daerah Tambun dan Bekasi, tapi malam itu mereka tak ada di sana.

Murtado dan teman-temannya tak kehabisan akal, mereka bertanya pada setiap orang yang mereka jumpai. Akhirnya mereka mendapat informasi kalau Warsa dan anak buahnya sedang berada di daerah Karawang. Tanpa buang-buang waktu lagi, Murtado dan teman-temannya menyusul ke Karawang. Dan terjadilah pertempuran hebat.

Warsa adalah Iawan yang tangguh, ilmu bela dirinya juga hebat. Tak heran jika orang-orang takut padanya.

"Ha... ha... anak ingusan macam kau hendak melawanku? Rasakan jurusku ini!" kata Warsa sambil melayangkan tinju. Namun Murtado tak kalah hebat. Dikerahkannya semua ilmu bela diri yang ia kuasai. Saomin dan 5arpin juga bertarung melawan anak buah Warsa.

Akhirnya kemenangan berpihak pada Murtado. Warsa tewas di tangannya, sementara anak buahnya menyerah kalah.

"Ampuni kami Tuan, kami akan melakukan apa saja yang Tuan pinta, tapi jangan bunuh kami," kata mereka mengiba-iba.

"Tunjukkan di mana hasil rampokan itu kalian simpan, setelah itu kalian akan aku ampuni," kata Murtado tegas.

Murtado dan teman-temannya membawa pulang hasil rampokan Warsa ke Kemayoran. Mereka mengembalikannya pada pemiliknya masing-masing. Penduduk Kemayoran sangat gembira. Begitu juga dengan Bek Lihun, ia bahkan melaporkan keberhasilan Murtado pada Belanda.

Penguasa Belanda kagum pada kegigihan dan keberanian Murtado. Atas usul Bek Lihun, penguasa Belanda menawarkan Murtado untuk menjadi pemimpin daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun.

"Maaf Tuan, tapi saya lebih senang menjadi rakyat biasa. Biarkan saya berjuang di jalan saya sendiri," tolak Murtado dengan halus.

Ya, Murtado tak mau menjadi kaki tangan Belanda. Ia merasa Iebih baik hidup sebagai rakyat biasa dan membantu menjaga keamanan penduduk Kemayoran dengan caranya sendiri. Karena keberaniannya itu, penduduk Kemayoran dan penguasa Belanda menjulukinya "Macan Kemayoran".

Sejarah Rohingya, Duka Warga Tanpa Negara



Puluhan tahun sudah penduduk muslim Rohingya hidup terlunta-lunta dalam bayang-bayang ketakutan. Mereka tinggal di wilayah Arakan, bagian dari Rakhine- di Myanmar Barat yang berbatasan langsung dengan Bangladesh. 

Rohingya berasal dari kata Rohai atau Roshangee yang berarti penduduk muslim Rohang atau Roshang, sebutan untuk daerah tersebut sebelum dinamai Arakan. Sejak 1942 mereka mengalami upaya pengusiran dari wilayah Arakan. 

Saat itu terjadi pembantaian muslim Rohingya oleh pasukan pro Inggris. Sedikitnya 100 ribu muslim Rohingya tewas dan ribuan desa hancur dalam tragedi tersebut. Sejak itu muslim Rohingya hidup dalam ketakutan



Komunitas muslim mendiami wilayah Arakan (kini Rakhine) pada abad XIV. Tepatnya di Kerajaan Mrauk U yang dipimpin oleh raja Buddhis bernama Narameikhla atau Min Saw Mun. Sebelumnya, selama 24 tahun, Narameikhla diasingkan di kesultanan Bengal. Atas bantuan Sultan Bengal yang bernama Nasirudin, dia mendapatkan takhta di Arakan. 

Kesultanan Bengal adalah sebuah kerajaan Islam pada abad pertengahan yang didirikan di Bengal pada 1342. Daerah kekuasaan kesultanan ini mencakup wilayah negara Bangladesh saat ini, India bagian Timur, dan bagian Barat Myanmar. 

Setelah mendapat takhta di Arakan, Narameikhla mengucapkan Syahadat dan ganti nama jadi Suleiman Shah. Dia kemudian membawa orang-orang Bengali untuk membantu administrasi pemerintahannya. Lalu terbentuklah komunitas Muslim pertama di Arakan kala itu. 

Pada 1420, Arakan memproklamirkan diri sebagai kerajaan Islam merdeka di bawah Raja Suleiman Shah. Kekuasaan Arakan yang Islam itu bertahan hingga 350 tahun. Pada 1784, Arakan kembali dikuasai oleh Raja Myanmar. Tahun 1824, Arakan menjadi koloni Inggris. Sejak itulah populasi Islam di kawasan Arakan perlahan-lahan berkurang.

Orang Rohingya bukan satu-satunya kelompok etnis yang beragama muslim di Myanmar. Mereka ada yang keturunan Arab, Moor, Pathans, Moghuls, Bengali dan Indo-Mongoloid. 

Situasi buruk umat Islam Rohingya terjadi saat Perang Dunia Kedua saat Myanmar (Birma) dijajah Inggris. Selama pemerintahan Inggris dari 1824 -1942 Arakan diizinkan memiliki tingkat otonomi daerah sendiri. Ketika itu Arakan relatif aman dan hanya ada beberapa insiden pemberontakan yang tercatat. 

Pada 1942, pasukan Jepang menyerang Birma dan Inggris mundur sehingga menyebabkan kekosongan besar dalam kekuasaan dan stabilitas. Saat itulah terjadi kekerasan komunal antara Muslim Rakhine dan Rohingya. Terjadi pembantaian berikutnya dari kedua belah pihak sehingga memaksa Muslim Rohingya migrasi besar ke Bengal. 

Setelah Burma merdeka pada Januari 1948, ketegangan antara pemerintah dengan Muslim Rohingya berlanjut dengan gerakan politik dan bersenjata. Sekitar 13.000 orang Rohingya mencari perlindungan di kamp pengungsian India dan Pakistan. Hal inilah yang menyebabkan mereka ditolak hak warga negaranya untuk kembali ke Birma dan terjadilah penolakan terhadap Muslim Rohingya. 

Sejak periode itulah Muslim Rohingya menyandang status manusia tanpa negara. Sejak Birma merdeka pada 1948, Muslim Rohingya dikucilkan dalam hal pembangunan bangsa. Pada 1962 Jenderal Ne Win mensistematiskan penindasan terhadap Rohingya dengan membubarkan organisasi politik dan sosial mereka. 

Pasukan pemerintah Birma mengusir ribuan Muslim Rohingya secara brutal disertai pembakaran pemukiman, pembunuhan dan pemerkosaan. Warga Muslim Rohingnya melarikan diri ke Bangladesh untuk mendapatkan perlindungan. Hingga 1978 tercatat lebih dari 200 ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke negara itu. 

Upaya pengusiran Muslim Rohingya dari wilayah Arakan terus dilakukan pemerinah Birma yang kini menjadi Myanmar. Ribuan Muslim Rohingya berusaha mengungsi ke sejumlah negara. Naas tak semua negara mau menerima mereka. Bangladesh, negara tetanga terdekat juga menolak memberikan suaka kepada Muslim Rohingya. 

Data Human Right Watch menyebut antara 2012 hingga 2014 ada 300 ribu warga Muslim Rohingya terusir dari Myanmar. Tahun 2012, muncul gerakan Rohingya Elimination Group yang didalangi oleh kelompok ekstremis 969. Tak kurang dari 200 jiwa dan 140.000 warga Rohingya lainnya dipaksa tinggal di kamp-kamp konsentrasi yang tidak manusiawi.

Selama Agustus kemarin kekerasan kembali dialami Muslim Rohingya. Tak kurang sekitar 18 ribu etnis yang tidak diakui kewarganegaraannya oleh Myanmar mengungsi ke Bangladesh. Pemerintah Myanmar berdalih melakukan operasi militer setelah terjadi serangan kelompok pemberontak ARSA (Tentara Pembebasan Arakan Rohingya) pada Kamis pekan lalu ke pos-pos tentara di Rakhine.

Fidel Castro Biography

Fidel Castro Biography

Hasil gambar

Synopsis

Cuban dictator Fidel Castro was born near Birán, Cuba, in 1926. Beginning in 1958 Castro and his forces began a campaign of guerrilla warfare to successfully overthrow Cuban dictator , and Castro became the country's new leader. His communist domestic policies and military and economic relations with the Soviet Union led to strained relations with the United States that culminated in the 1962 Cuban Missile Crisis. He was also responsible for fomenting communist revolutions in other countries around the world. Under Castro, improvements were made to health care and education, while civil liberties were severely eroded. However, the 1991 collapse of communism in the Soviet Union and its negative impact on Cuba's economy led Castro to relax some restrictions over time. Amidst failing health, in 2008 Fidel Castro officially handed over power to his brother Raúl Castro, but still wielded some political influence in Cuba and abroad. Fidel Castro died on November 25, 2016 at the age of 90.

Early Life

Fidel Alejandro Castro Ruz was born on August 13, 1926, near Birán, in Cuba's eastern Oriente Province. He was the third of six children, including his two brothers, Raúl and Ramón; and three sisters, Angela, Emma and Agustina. His father, Ángel, was a wealthy sugar plantation owner originally from Spain who did most of his business with the American-owned United Fruit Company, which dominated the agriculture in that region at the time. His mother, Lina Ruz González, had been a maid to Ángel's first wife, Maria Luisa Argota, at the time of Fidel's birth. By the time Fidel was 15, his father dissolved his first marriage and wed Fidel's mother. At age 17, Fidel was formally recognized by his father and his name was changed from Ruz to Castro.
Educated in private Jesuit boarding schools, Castro grew up in wealthy circumstances amid the poverty of Cuba but was also imbued with a sense of Spanish pride from his teachers. From an early age, Castro showed he was intellectually gifted, but he was also something of a troublemaker and was often more interested in sports than studies. He attended Colegio Dolores in Santiago de Cuba and then El Colegio de Belén in Havana, where he pitched for the school's baseball team as well as played basketball and ran track. After his graduation in late 1945, however, Castro entered law school at the University of Havana and became immersed in the climate of Cuban nationalism, anti-imperialism and socialism, focusing his energies more exclusively on politics.


Early Political Insurrections and Arrests

By 1947, Castro had become increasingly passionate about social justice and he traveled to the Dominican Republic to join an expedition attempting the overthrow of the country's dictator, Rafael Trujillo. Though the coup failed before it got started, the incident did little to dampen Castro's passion for reform, and he traveled to Bogotá, Colombia, the following year to participate in the anti-government rioting there.   
In 1947, Castro also joined the Partido Ortodoxo, an anticommunist political party founded to reform government in Cuba. Its founder, Cuban presidential candidate Eduardo Chibás, lost the 1948 election but inspired Castro to be an ardent disciple. He pledged to expose the government's corruption and warn the people about General Fulgencio Batista, himself a former president, who was plotting a return to power. However, Chibás's efforts were cut short after his supposed allies refused to provide evidence of government wrongdoing. In August 1951, Chibás shot himself during a radio broadcast.
Meanwhile, Castro had married Mirta Díaz Balart, who was from a wealthy political family in Cuba. They had one child, named Fidel, in 1949. The marriage exposed Castro to a wealthier lifestyle and political connections. At the same time, however, he developed an interest in the work of Karl Marxand became intent on running for a seat in the Cuban congress. But in March 1952 a coup led by General Fulgencio Batista successfully overthrew the government and the upcoming election was cancelled, leaving Castro without a legitimate political platform and little income with which to support his family. 
Batista set himself up as dictator, solidified his power with the military and Cuba's economic elite and had his government recognized by the United States. In response, Castro and fellow members of the Partido Ortodoxo organized a group they called "The Movement" and planned an  insurrection. On July 26, 1953, Castro and approximately 150 supporters attacked the Moncada military barracks outside of Santiago de Cuba in an attempt to overthrow Batista. However, the attack failed and Castro was captured, tried, convicted and sentenced to 15 years in prison. His brother Raúl was also among those imprisoned. 

Guerrilla War Against Batista

While incarcerated, Castro renamed his group the "26th of July Movement" and continued to coordinate its activities through correspondence. He and his compatriots were ultimately released in 1955 under an amnesty deal with the Batista government, and he traveled with Raúl to Mexico, where they continued to plan their revolution. 
In Mexico, Castro met with other Cuban exiles, as well as the Argentinian rebel Ernesto "Che" Guevara, who believed that the plight of Latin America's poor could be rectified only through violent revolution. He joined Castro's group and became an important confidante, helping to shape Castro's political beliefs.
On December 2, 1956, Fidel Castro returned to Cuba aboard the boat Granma with little more than 80  insurgents and a cache of weapons near the eastern city of Manzanillo. In short order, Batista's forces killed or captured most of the attackers. But Castro, Raúl, Guevara and a handful of others were able to escape into the Sierra Maestra mountain range along the island's southeastern coast. Over the course of the next two years, Castro's steadily growing forces waged a guerrilla war against the Batista government, organizing resistance groups in cities and small towns across Cuba. Castro was also able to organize a parallel government, carry out some agrarian reform and control provinces with agricultural and manufacturing production.
Beginning in 1958, Castro and his forces mounted a series of successful military campaigns to capture and hold key areas throughout Cuba. Combined with a loss of popular support and massive desertions in its military, Castro's efforts finally led to the collapse of Batista's government, and in January 1959, Batista himself fled to the Dominican Republic. At the age of 32, Castro had successfully concluded his guerrilla campaign to take control of Cuba.
A provisional government was quickly created, with Manuel Urrutia installed as president and José Miró Cardona as prime minister. It quickly gained the recognition of the United States, and Castro himself arrived in Havana to cheering crowds and assumed the post of commander-in-chief of the military. In February 1959, Miró suddenly resigned, and Castro was sworn in as Cuba's prime minister. Meanwhile, hundreds of members of Batista's government were tried and executed. 

Turn to Communism

Castro implemented far-reaching reforms by nationalizing factories and plantations in an attempt to end U.S. economic dominance on the island. Among these reforms, it was announced that the new government would base compensation to foreign companies on the artificially low property values that the companies themselves had negotiated with past Cuban governments in order to keep their taxes low. American companies soon felt the negative effects of such measures, leading to a significant strain in relations between the Cuba and the United States. 
During this time, Castro repeatedly denied being a communist, but to many Americans, his policies closely resembled a Soviet-style control of both the economy and government. In April 1959, Castro and a delegation visited the United States as guests of the National Press Club. Castro hired a renowned public relations firm to help promote his tour, but President Dwight Eisenhower, refused a meeting with him.
That May, Castro signed the first Agrarian Reform Act, which limited the size of land holdings and forbade foreign property ownership. On the surface, the intent was to develop a class of independent farmers. In reality, this program led to state land control, with the farmers becoming mere government employees. By the end of 1959, Castro's revolution had become radicalized, with purges of military and government leaders—including President Urrutia—and the suppression of any media critical of Castro's policies.
Castro's government also began to establish relations with the Soviet Union. The USSR sent more than 100 Spanish-speaking advisers to help organize Cuba's defense committee. In February 1960, Cuba signed a trade agreement to buy oil from the Soviet Union and established diplomatic relations. When U.S.-owned refineries in Cuba refused to process the oil, Castro expropriated them, and the United States retaliated by cutting Cuba's import quota on sugar, thus beginning what would become a decades-long contentious relationship between the two countries.

Bay of Pigs and the Cuban Missile Crisis 

The year 1961 proved to be pivotal in Castro's relationship with the United States. On January 3, 1961, outgoing president Dwight Eisenhower broke off diplomatic relations with the Cuban government. On April 14, Castro formally declared Cuba a socialist state. Three days later, some 1,400 Cuban exiles invaded Cuba at the remote Bay of Pigs in an attempt to overthrow the Castro regime. The incursion ended in disaster, with hundreds of the insurgents killed and more than 1,000 captured. Though the United States denied any involvement, it was revealed that the Cuban exiles had been trained by the Central Intelligence Agency and armed with American weapons. Decades later, the National Security Archive revealed that the United States had begun planning an overthrow of the Castro government as early as March 1959. The invasion was conceived during the Eisenhower administration and inherited by President John F. Kennedy, who reluctantly approved its action but denied the invaders air support in the hopes of concealing a U.S. role in the effort.
Castro, in turn, was able to capitalize on the incident to consolidate his power and further promote his agenda. On May 1 he announced an end to democratic elections in Cuba and denounced American imperialism. Then at year's end, Castro declared himself a Marxist-Leninist and announced the Cuban government was adopting communist economic and political policies. On February 7, 1962, the United States imposed a full economic embargo on Cuba.
In the wake of the Bay of Pigs incident, Castro intensified his relations with the Soviet Union by accepting further economic and military aid. In October 1962, his increasing reliance on Soviet support brought the world to the brink of nuclear war. Hoping to deter another U.S. invasion of Cuba, Castro and Soviet Premier Nikita Khrushchev conceived the idea of placing nuclear missiles in Cuba, just 90 miles off the coast of Florida. Khrushchev justified the move as a response to U.S. Jupiter missiles that had been deployed in Turkey. However, an American U-2 reconnaissance plane discovered the base construction before the missiles were installed and President Kennedy responded by demanding the removal of the missiles, with orders for the U.S. Navy to search any vessels headed for the island.
Over 13 anxious days of secret communications between Khrushchev, Kennedy and their agents, the Soviets agreed to remove the missiles in exchange for the United States' public agreement not to invade Cuba. The Kennedy administration also agreed to secretly remove the Jupiter missiles from Turkey. Both leaders saved face and gained some admiration for restraint. Castro, on the other hand, was humiliated: Both superpowers had completely left him out of the negotiations. Furthermore, the United States was able to persuade the Organization of American States to end diplomatic relations with Cuba, in response to Castro's "shameful" actions.

Cuba Under Castro

But Castro wasn't shamed for long. In 1965, he merged Cuba's Communist Party with his revolutionary organizations, installing himself as head of the party. Within a few years, he began a campaign of supporting armed struggle against imperialism in Latin American and African countries. In January 1966, Castro founded the Organization for Solidarity with the Peoples of Asia, Africa, and Latin America to promote revolution and communism on three continents. In 1967, he also formed the Latin American Solidarity Organization to foster revolution in select Latin American countries.
In the 1970s, Castro continued to promote himself as the leading spokesperson for Third World countries by providing military support to pro-Soviet forces in Angola, Ethiopia and Yemen. Though Cuba was still heavily subsidized by the Soviet government during this period, those expeditions ultimately proved unsuccessful and put a strain on the Cuban economy.
Meanwhile, the U.S. agreement not to invade Cuba had not precluded attempting to topple the Castro regime in other ways. Over the years, Castro was the target of numerous CIA assassination attempts (an estimated 638 in all, according to Cuban intelligence), ranging from exploding cigars to a fungus-infected scuba-diving suit to a mafia-style shooting. Castro took great delight in the fact that none of the attempts ever succeeded and was quoted as saying that if avoiding assassination attempts was an Olympic sport, he would have won gold medals.
Castro's regime has been credited with opening 10,000 new schools and increasing literacy to 98 percent. Cubans enjoy a universal health-care system, which has decreased infant mortality to 11 deaths in 1,000 (1.1 percent). But at the same time, civil liberties were whittled away, as labor unions lost the right to strike, independent newspapers were shut down and religious institutions were harassed. Castro removed opposition to his rule though executions and imprisonments, as well as through forced emigration.
During Castro's rule, hundreds of thousands of Cubans fled the country, many settling just across the Florida Straits in Miami. The largest of these exoduses occurred in 1980, when Castro opened up the port of Mariel to allow exiled Cubans living in Miami to come claim their relatives. Upon their arrival, Castro also loaded the ships with Cuban prison inmates, mental patients and other social undesirables. In all, nearly 120,000 Cubans left their homeland in 1980 to find sanctuary in the United States.

Collapse of the Soviet Union

After the 1991 collapse of the Soviet Union sent Cuba's economy into a tailspin, Castro's revolution began to lose momentum. Without cheap oil imports and an eager Soviet market for Cuban sugar and other goods, Cuban unemployment and inflation grew. The contraction of the Cuban economy resulted in 85 percent of its markets disappearing.
Yet Castro was very adept at keeping control of the government during dire economic times. He pressed the United States to lift the economic embargo, but it refused. Castro then adopted a quasi-free market economy and encouraged international investment. He also legalized the U.S. dollar and encouraged limited tourism, and in 1996 he visited the United States to invite Cuban exiles living there to return to Cuba to start businesses.
In 2001, after massive damage was caused by Hurricane Michelle, Castro declined U.S. humanitarian aid but proposed a one-time cash purchase of food from the United States. George W. Bush's administration assented and authorized the shipment. With the fuel supply running dangerously low, Castro ordered 118 factories to be closed and sent thousands of Cuban doctors to Venezuela in exchange for oil imports.

Shifting Power

In the late 1990s, speculation began to arise over Castro's age and well-being. Numerous health problems had been reported over the years, the most significant occurring in 2006, when Castro underwent surgery for gastrointestinal bleeding. In a dramatic announcement, on July 31, 2006, Castro designated his brother Raúl as the country's temporary leader. Raúl had served as Castro's second in command for decades and had been officially selected as his successor in 1997. Following Fidel Castro's surgery, his only appearances were in photographs and video recordings of meetings.
On February 19, 2008, 81-year-old Fidel Castro permanently gave up the Cuban presidency due to his deteriorating physical condition. He handed over power to Raúl, who was 76 years old at the time. The Cuban National Assembly officially elected Raúl Castro as president of Cuba the same month, although Fidel Castro reportedly remained first secretary of the Communist Party.
In April 2011, news broke that Fidel Castro officially stepped down from his role within Cuba's Communist Party. Raúl Castro easily won election as the party's new first secretary, taking over for his brother and choosing famed revolutionary José Ramón Machado Ventura to serve as the party's second in command. Fidel Castro claimed that he had actually resigned the post five years earlier.
In his retirement, Castro began writing a column about his experiences and opinions, called "Reflections of Fidel," and in 2007 his autobiography My Lifewas published. From mid-November to early January of 2012, however, Castro failed to publish any columns. This sudden silence sparked rumors that Castro had taken a turn for the worse. But these stories soon proved to be unfounded, as Castro put out a flurry of articles later that January.


READ OBITUARY: Fidel Castro, Cuban Revolutionary, Dies at 90. (Photo: DOMINIQUE FAGET/AFP/Getty Images)
Though not involved in the day-to-day affairs of running Cuba, Fidel Castro still maintained a certain degree of political influence both at home and abroad. He continued to meet with foreign leaders, such as Iran's Mahmoud Ahmadinejad in 2012, during their visits to Cuba. Pope Benedict arranged a special audience with Castro at the end of his trip in March 2012, seeking to obtain greater religious freedom for Catholics living in the communist nation, and in September 2015 Pope Francis met privately with Castro as well. However, when Barack Obama became the first sitting American president to visit Cuba in almost 90 years, he did not meet with Fidel Castro, who later denounced the goodwill mission in his column, citing a mistrust of U.S. motivations and writing, "We don't need the empire to gift us anything." 
Fidel Castro died on November 25, 2016 at the age of 90. His brother and successor Raúl Castro made the announcement of this death on Cuban state television.

Popular Posts