Si Ronda Macan Betawi Ternyata Makamnya Ada Di Kapuk Kec.Cengkareng

Bagi anda yang gemar mendengar atau menonton cerita para jagoan dahulu, khususnya dari daerah Betawi, tentu tak akan merasa asing dengan sosok yang satu ini. Konon, Si Ronda sama terkenalnya dengan para jagoan Betawi lainnya, seperti Si Pitung, Ji’ih dan masih banyak lagi. Namun sayangnya hanya segelintir orang yang tahu kalau makam jagoan betawi yang satu ini ada di daerah Kapuk, tepatnya di daerah Rawa Gabus Rt.11 Rw.11 Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.
bang korong ( peci merah ) salah satu keturunan si ronda dan Kasie pembina sudin parbud jakbar bu ayu beserta staf di bantu tim pendamping dari LKM PANCAKARYA tegal alur mengunjungi makam sironda macan betawi. Karna sebagai ajuan bangunan cagar budaya yg ada di jakarta barat. Makam tersebut memiliki nilai sejarah tanah betawi. Beliau adalah salah satu pejuang indonesia

Foto : Makam Si Ronda yang dinaungi sepasang pohon kosambi

Makamnya terletak agak tersembunyi, di belakang sebuah pasar yang bernama Pasar Memble. Disanalah Si Ronda dimakamkan bersama istri dan para anak cucunya. Tempatnya tampak asri dan sejuk dengan dirindangi sepasang pohon kosambi yang tampak meraksasa, seakan-akan hendak menunjukan kerongkahannya.

Salah satu cucu dari Si Ronda Kong Bonin (80th), saat ditemui oleh Ki Lintoeh wartawan dari Indoglobal di rumahnya beberapa bulan yang lalu menuturkan, Si Ronda berasal dari daerah Kasepuhan Gunung Anten di Banten Kidul. Ayahnya adalah seorang mualim yang bernama Ki Aleng. Ia merantau ke Betawi ditemani oleh salah seorang sepupunya yang bernama Ki Jambrong. Kong Bonin bercerita kalau kakeknya itu memiliki ciri-ciri tubuh tinggi besar, kesukaannya menghisap rokok kawung, ia memakai pakaian pangsi hitam-hitam dan memakai ikat kepala, bagaimana lazimnya pakaian orang pada zaman itu. Si Ronda kemudian merasa iba melihat kenyataan bangsanya ditindas serta diperas oleh Kompeni Penjajah Belanda dan para antek-anteknya. Terlebih melihat kelakuan para tuan tanah yang semena-mena, menyita tanah rakyat serta membebani dengan blasting (pajak) tinggi.

Ia kemudian menjadi rampok yang menggasak harta para orang kaya dan tuan-tuan tanah, kemudian membagi-bagikannya kepada para penduduk. Tempat ‘maen’ Si Ronda yaitu di daerah Marunda dan Kemayoran, tepatnya di seberang kali Ciliwung. Ia merampok tidak hanya di Batavia, tapi juga kiprahnya itu sampai ke Cikarang dan Karawang. Ciri khas Si Ronda waktu merampok, yaitu memakai kedok penutup kepala dari sarung, hingga ia pun diberi julukan Si Kedok. Ulahnya tentu membuat gerah para Demang dan Ondernemeng, hingga Kompeni waktu itu menyatakan Si Ronda sebagai penjahat yang harus ditangkap hidup ataupun mati.

Namun rupanya tidaklah semudah itu menangkap Si Ronda, selain jago silat Beksi ia juga mempunyai ilmu kebal terhadap senjata tajam dan menguasai ilmu Pancasona serta konon bisa menghilang. Ditambah lagi kekompakan para penduduk yang pernah ditolongnya dalam menyembunyikan dan memberi info kepada Si Ronda apabila ada pasukan marsose yang melakukan patroli.

Si Ronda adalah sosok orang yang alim, relijius dan taat beribadah, ia merampok bukan hendak memperkaya diri sendiri, tapi semata-mata hanya ingin meringankan beban rakyat yang kehidupannya ditindas, singkatnya ia menjadi ‘maling budiman’. Selain itu orangnya ramah dan santun, tapi paling benci dengan praktek pemerasan dan penjajahan.

Namun rupanya nasib Si Ronda lebih baik dibanding dengan nasib teman seperjuangannya yaitu Si Pitung, yang harus ditembak mati dan mayatnya dimutilasi, makam dari Si Pitung pun sampai sekarang masih menjadi perdebatan. Di masa tuanya Si Ronda hidup bersama keluarganya di daerah Rawa Gabus sampai wafatnya. Si Ronda memiliki seorang istri dan 9 orang anak.

Yang unik, sebelum wafatnya Si Ronda berpesan kepada anak-cucunya yaitu tidak akan ada yang dapat keturunan ilmunya, serta memerintahkan agar mengubur semua pusaka-pusakanya yang terdiri dari golok, keris, besi kuning, batu-batu dan sebagainya. Serta ia melarang kuburannya diberi rumah apalagi dikasih kelambu, ia tak mau dijadikan keramat dipuja-puja, takut nantinya banyak orang pada datang ziarah, nampaknya ia berkehendak agar makamnya senantiasa hening dan sunyi.

Pada sekitar tahun 2000an, makam Si Ronda terancam digusur oleh salah satu pihak pengembang, namun berkat kegigihan para ahli waris, pemakaman tersebut dapat diselamatkan dan lestari sampai sekarang. Nampaknya memang dibutuhkan campur tangan dari pihak pemerintah, agar makam Si Ronda dijadikan salah satu Situs Budaya dan Sejarah agar di masa depan, para anak cucu kita masih dapat menyaksikan salah satu bukti perjuangan dari para leluhurnya dalam membela kehormatan bangsa kita.

Sebagai catatan: di daerah Kapuk dan sekitarnya terdapat beberapa situs sejarah berupa makam, diantaranya: Makam Si Ronda, Makam Kumpi Raden Jaya Supena, Makam Mpe Aseng Tuan Tanah Kapuk, Makam Kumpi Raden Agung Agus Dirin, Makam Syekh Ahmad bin Hamid. Diantara makam-makam tersebut ada yang terawat dan ada pula yang tidak terawat, bahkan ada yang sudah hilang jejaknya seperti Makam Keramat Empat, Makam Kumpi Jenggot, Makam Keramat Asem, Makam Keramat Bungur, Makam Kumpi Dago Putat Bongkok.

Selain yang berbentuk makam, ada juga yang berbentuk cerita, seperti asal mula nama Kampung Kapuk, asal mula nama Jembatan Genit, cerita Kong Haji Diin dari Kebon Kantor (Kebon Jambu sekarang), adanya asrama dan kantor kompeni di Kebon Kantor, asal mula nama Kampung Poglar, bahkan tak banyak yang tahu kalau zaman kompeni dahulu di daerah Kapuk ada jalan rel kereta api untuk angkutan hasil bumi kompeni. Semua itu adalah sejarah para pendahulu kita, yang sayang kalau sampai hilang begitu saja. Bapak Presiden Soekarno pernah berkata: “JASMERAH”, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

sumber : http://www.indoglobalnews.id/2016/05/si-ronda-macan-betawi-ternyata-makamnya_16.html

Tag : makam si pitung , sejarah si ronda macan betawi , jagoan betawi , pendekar betawi , sejarah si pitung , sejarah sayuti jago cengkareng , sejarah betawi , makam si ronda macan betawi , sabeni jago tenabang , pendekar beksi

Silat Cingkik Goning ( Maen Pukulan Betawi )

Silat Cingkik Goning ( Maen Pukulan Betawi )
Pencak silat Cingkrik, adalah salah satu seni beladiri Indonesia asli, yang telah berumur bertahun-tahun dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi kegenerasi berikutnya.
Cingkrik, adalah salah satu Aliran silat Betawi.  Lantaran beberapa gerakannya adalah berlompat lompatan dengan satu kaki, orang Betawi menyebutnya jejingkrikan,
lantas kemudian silat ini pun disebut Jingkrik, Cingkrig atau Cingkrik.

Engkong Goning, nama aslinya adalah Ainin Bin Urim.  Beliau adalah seorang pejuang kedoya kebon jeruk Jakarta Barat, serta pewaris dan penerus silat Cingkrik.  Beliau lahir sekitar tahun 1895 dan meninggal sekitar tahun 1975 pada umur 80 tahun.  Beliau sering dipanggil “Nin” (berubah bunyi menjadi “Ning”)
dan ditambah kata “GO”  di depan kata Ning (kata ledekan anak-anak Betawi), jadi “GONING”
Menurut penjelasan dari Haji Husien (anak kedua dari Kong Goning), bahwa Beliau sering pergi ke daerah Marunda (Cilincing Tanjung Priok)
tempat dimana Bang Pitoeng jaya pada zamannya.
Beliau pulang ke Kedoya dari Marunda 2, 3 sampai 4 hari lamanya (tidak dijelaskan apa tujuannya).
Beliau mempunyai 4 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan.
Nama anak laki-laki beliau adalah :
1. Kosim (Almarhum)
2. Haji Husien
3. Haji Sa’adih
4. Haji Arsyad Jago/Mandor (Almarhum)
Dan beliau juga mempunyai seorang murid yang bernama Engkong Usup Utay.
Engkong Usup Utay
Engkong Usup Utay Bin Tohir,beliau adalah murid dari Engkong Goning.
Beliau lahir sekitar tahun 1927 serta meninggal sekitar tahun 1993 pada umur 66 tahun.
Beliau mempunyai murid yang bernama TB. Bambang Sudrajat dari daerah Grogol yaitu Babeh Tb. Bambang Sudrajat
1-guru-besar.jpg
Babeh Tb. Bambang Sudrajat, Adalah murid dan menantu dari Engkong Usup UtaY sekaligus merupakan Ahli Waris dan Penerus dari Aliran Silat Cingkrik Goning melalaui jalur keilmuan Engkong Usup Utay
Babeh Tb. Bambang Sudrajat, belajar sejak tahun 1966. Kala itu ia berumur 11 tahun.
Waktu itu Ia melihat tukang bambo dari daerah rempoa belajar silat dengan Engkong Usup Utay,
Karena setiap hari Babeh Bambang datang ke tempat latihan,
maka oleh Engkong Usup Utay ia di tanya apakah ia mau belajar silat?… Babeh Bambang menjawab mau.
Kemudian oleh Engkong Usup Utay Babeh Bambang disuruh untuk meminta izin dari orang tuanya.
Setelah itu mulailah Babeh Bambang belajar silat dengan Engkong Usup Utay.
Sampai akhirnya Babeh Bambang menikah dengan putri Engkong Usup Utay yang bernama Ibu Yani.
Babeh Bambang sendiri telah belajar lama …. sampai Engkong Usup Utay meninggal dunia.
Tapi sebelum meninggal beliau berpesan kepada Babeh Bambang jangan sampai mati obor (punah-red).

Demikian sejarah singkat mengenai asal-usul Perguruan Silat Cingkrik Goning ini,
dan mudah-mudahan menambah wawasan dan pengetahuan serta bermanfaat bagi kita semua
sumber : https://cingkrikgoning.wordpress.com/about/
silat betawi
silat asli betawi
jurus silat betawi
beksi betawi
silat seliwa betawi
silat cingkrik betawi
maen pukulan betawi
sejarah silat beksi
sejarah silat cingkrik

Maen Pukulan Betawi ( Silat BEKSI )



Dari Sekian Banyak Aliran "Maen Pukulan Betawi" salah satunya adalah BEKSI
lmu Bela Diri BEKSI adalah ilmu bela diri yang memadukan antara seni, keindahan, ketepatan dalam mencapai sasaran, kekuatan, kecepatan serta kedinamisan dalam gerak dan olah pukul yang serta sikut yang keras. Kesemuanya itu terangkum dan tertata secara apik melalui dimensi gerak, pukulan serta sikut yang keras yang merupakan ciri khas tersendiri yang membedakan ilmu bela diri BEKSI dengan ilmu bela diri lainnya. 

ASAL-USUL SILAT BEKSI
Seni budaya beladiri yang oleh orang betawi disebut maen pukulan Beksi lahir dari kemampuan orang terpilih yang tiada hentinya melatih kepekaan inderawi, mengolah kelebihan atau kelenturan anatomi tubuh dan belajar sebanyak mungkin dari pertanda alam seperti riak sungai, hembusan angin, gerak dan laku macan, monyet, kelabang, belalang,dst (hal 19).
Menurut buku ini, asal usul beksi ada beberapa versi.
Versi pertama. Versi ini dikisahkan oleh seorang sesepuh Beksi: H Atang Lenong (usia 84 tahun ketika wawancara tahun 2001). Beksi mulai muncul ke permukaan dalam kurun pertengahan abad 19 sekitar tahun 1850-1860-an. Pada masa ini ada seorang tuan tanah di daerah tangerang bernama Gow Hok Boen yang tinggal di kampung kosambi. Tuan tanah ini kebetulan gemar akan beladiri dan menguasai ilmu kuntao atau kungfu. Orang local tangerang mengenal Gow Hok Boen sebagai Tuan tanah kedaung. Sebagai tuan tanah, Tuan Gow punya sekian banyak centeng untuk membantunya. Kepala centengnya bernama Ki Kenong yang memiliki ilmu beladiri yang tinggi dan dicampur dengan ulmu sihir yang dahsyat. Tertarik dengan beladiri, Tuan tanah ini mengadakan sayembara untuk mencari jagoan yang lebih hebat dari kepala centengnya dan mendapat kedudukan menggantikan jabatan sebagai kepala centeng. Maka setiap malam minggu diadakan pibu alias duel dengan banyak jagoan yang mau mengadu ilmu dan keberuntungan dengan melawan Ki Kenong. Namun dari sekian banyak penantangnya belum ada satunpun yang berhasil mengalahkan Ki Kenong. Tersebutlah ada seorang tukang singkong rebus (disebut ancemon atau singkong urap) bernama Pak Jidan yang setiap malam menjual singkong di tengah keramaian pertunjukan duel ini. Pak Jidan mengambil singkong dari hutan dekat tempat tinggalnya dan singkong tersebut tidak habis-habis dan seperti ada yang memelihara, namun karena di hutan Pak Jidan tidak ambil pusing. Suatu sore, ketika pak Jidan beristirahat di rumahnya dia didatangi oleh soerang pemuda yang protes karena singkong yang dia tanam dan pelihara di hutan diambil oleh pak jidan. Karena tidak tahu pak Jidan pun minta maaf. Melihat keluguan dan kekjujuran pak Jidan serta hidupnya yang miskin, orang misterius itu menawarkan untuk membantu pak Jidan dengan memberi pelajaran maen pukulan, tidak peduli waktu itu pak jidan sudah berumur sekitar 60-an. Singkat kata, Pak jidan menerima pelajaran maen pukulan sebanyak 8 jurus dan tiga atau empat lagi belum diajarkan, yang akan diajarkan oleh orang lain. Sebelum pergi orang misterius itu minta kemenyan dan berpesan bahwa dia bisa dipanggil jika pak jidan memerlukan dengan membakar kemenyan dan membaca mantra. Ketika orang itu epergi, Pak Jidan melihat ekor macan tersembul dari balik jubahnya danjuga tengkuknya terlihat loreng-loreng seperti layaknya kulit harimau. Pak jidan pun terkejut dan maklum bahwa dia dikunjungi dan diajari maen pukulan oleh Ki Belang atau Siluman Macan Putih. Malam selanjutnya, pak Jidan berjualan seperti bias adi tengah pentas duel. Disebabkan karena jengkel dengan jagoan-jagoan yang tidak bayar sewaktu makan singkong daganganya, PaK Jidan menedang keranjang dagangannya dan melayang masuk ke tengah gelanggang. Tuan tanah Gow pun marah dan menyuruh orang menyeret Pak Jidan tengah arena dan memaksanya bertarung dengan Ki Kenong. Di luar dugaan, Pak Jidan mampu mengalahkan di Kenong dengan ilmu yang diajarkan oleh Ki Belang itu. Menurut legenda, dengan jurus baroneng Pak Jidan melumpuhkan ilmu Ki Kenong yang terkenal dengan ‘pukulan tangan berapi’. Ketika ditanya oleh Tuan Gow tentang ilmu yang dipakai oleh Pak Jidan, dia tidak tahu apa namanya. Lalu tuan Gow Hok Boen menyebutnya Beksi artinya pertahanan empat mata angin. Sejak itu terkenallah Pak Jidan—yang diangkat sebagai kepala pengawal keamanan-- dengan ilmu beksinya.

Versi kedua diceritakan oleh H Mahtun (lahir di petukangan 1945). Alkisah di kampung bagian timur tangerang hiduplah seorang laki-laki yang mahir beladiri bernama Raja Bulu berusia sekitar 63 tahun yang hidup berdua dengan anaknya yang gagu (bisu), istrinya sudah meninggal dunia. Kehidupan Raja Bulu berkecukupan dengan pekerjaan mengajar silat dari kampong ke kampong. Si anak sendiri tidak mau belajar silat pada bapaknya. Suatu ketika Raja bulu bertanya pada anaknya mengapa dia tidak mau belajar maen pukulan. Dan jawabannya sungguh mengejutkan: karena di anak belum tentu kalah dalam sambut-pukul dengan Raja Bulu. Si ayah lalu mengetes dan terjadilah pertarungan dan menjadi keteter atau kewalahan menghadapi ilmu anak bisu. Akhirnya si anak mengaku bawah selama ini dia belajar maen pukulan di hutan dan dilatih oleh siluman mcan putih. Karena belum ada nama, Raja bulu menyebut ilmu yang dikuasai oleh anaknya : Beksi: sebab seperti segi empat dengan empat arah . Sejak itu Raja Bulu pun belajar pada anaknya dan ilmu ini pun diajarkan ke murid-muridnya.demikian beksi pun berkembang.
Dalam perkembangan selanjutnya para pendekar Beksi memberi banyak makna pada ilmu maenpukulan ini.

Ada yang menartikannya BEKSI= "Berbaktilah Engkau pada Sesama Insan".
Asal usul di atas merupakan folklore, ceira rakyat berisi legenda yang didalamnya terdapat kenyataan dan juga legenda.

TOKOH-TOKOH BEKSI
Hampir semua aliran beksi mengakui bahwa yang mengajarkan pertama-tama ilmu beksi adalah Ki Kidan ( Ki Iban) dan atau Raja Bulu.
Lebih lanjut inilah para tokohnya berdasarkan generasi:

Generasi I : Raja Bulu dan Ki Jidan (Ki Iban)
Generasi II : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Jiah
Generasi III :Kong Marhali, Nyi Mas Melati, Kong Godjalih
Generasi IV : Kong H Hsabullah, Kong HM Nur, Kong Simin, Minggu, Salam Kalut, H Mansyur, Muhammad Bopeng
Generasi V : Tonganih, Dimroh, HM Yusuf, HM Nuh, Sidik, H Namat, H Syahro, Mandor Simin, Umar
Generasi VI :H Machtum, Tong tirih, H Dani, Udin Sakor, Soleh, Tholib/syaiful, dll
Generasi VII : Abdul Aziz, Abdul Malik, HA Yani, Mftah, Nasrullah, dll

Ki Iban/Raja Bulu memiliki murid yaitu : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Jiah
Yang belajar pada atau menjadi murid dari Ki Ceng Ok yaitu : Kong Godjalih, Kong Marhali. Sedangkan Nyimas Melati berguru pada Ki Dalang Jiah.
Para murud dari Ki Ceng Ok terus menerus menyebarkan Beksi hingg ke Jakarta dan tempat lain. Mereka dikenal denga sebutan Beksi empat serangkai yakni : Kong Jali, Kong Has, Kong Nur dan Kong Simin.

JURUS-JURUS DAN BELAJAR BEKSI
Jurus-jurus Beksi terkenal dengan keras, cepat, ringkas danemngarah pada tempat-temapt yang mematikan pada tubuh. Sebelum mempelajari jurus, murid biasanya mengikuti syarat penerimaan siswa yang disebut rosulan atau ngerosul; berupa tawasul disertai zikir tahlil memanjatkan doa Pada Allah agar dalam mempelajari beksi diberi keridlaan, kekuatan, ketabahan dan kesabaran.
Dalam permaian jurus, ada banyak melakukan gedi (hentakan kaki ke lantai) dan gerakan tangan yang sangat cepat. Oleh sebab itu dianjrukan untuk melotot dan tidak berkedip dalam melihat gerak lawan.

Cara belajar -mengajar beksi :
Diperkenalkan jurus. Murid menirukan disebut juga : asal tau jalan Tuntun. Latihan gerak bela yang dituntun oleh guru dengan teknik dan aplikasi jurus Sambut. Murid tanding dengansesama murid atau guru dengan menggunakan jurus. Secara fundamental ada 12 jurus dalam beksi dibeberapa tempat disebut dengan nama yang berbeda.

NAMA-NAMA JURUS BERDASARKAN DAERAHNYA:

DAERAH I
Jurus Beksi
Jurus Gedig
Jurus Tancep
Jurus Cauk
Jurus Broneng
Jurus Bandut
Jurus Beksi Satu
Jurus Silem
Jurus lokbe
Jurus Bolang Baling
Jurus Janda Berias
Jurus Panca Lima

DAERAH I I
1. Jurus Beksi
2. Jurus Gedig
3. Jurus Tancep
4. Jurus Ganden
5. Jurus Bandut/bandul
6. Jurus Broneng
7. Jurus Tingkes
8. Jurus Rusia Pecah Tiga
9. Jurus Bolang Baling
10. Jurus Gebal
11. Jurus Kebut
12. Jurus Petir

DAERAH III
Jurus Beksi
.Jurus Gedig
.Jurus Tancep
.Jurus Ganden
.Jurus Bandut/bandul
.Jurus Broneng
.Jurus Tingkes
.Jurus timpug
.Jurus Kebut
.Jurus Tiga
.Jurus Galang Tiga
.Jurus Galang Lima

DAERAH IV
Jurus Beksi
.Jurus Gedig
.Jurus Tancep
.Jurus Ganden
.Jurus Kebut
.Jurus Broneng
.Jurus Beksi Satu
.Jurus Ganden Susun
.Jurus Tingkes
.Jurus Silem
.Jurus Timpug
.Jurus Tunjang/Petir

Pelajaran senjata juga diberikan yaitu ilmu golok yang terdiri dari dua jurus yaitu jurus golok satu dan dua. Jurus golok satu dipecah lagi jadi jurus satu hingga jurus tujuh. Sedangkan jurus golok dua dipecah menjadi 2 jurus yaitu jurus satu dan dua.Kombinasi jurus baik tangan kosong maupun golok sangat sanagt penting dalam beksi sehingga bisa bercipata berbagai jurus lagi misalnya : Jurus bandut tepuok, jurus bandut galang, dll.

“Lu jual gue beli !!
“Lu jangan amen pukul aje, maen hakin sendiri. Pakelah ilmu padi, mangkin berisi mangkin merunduk

BACA JUGA : silat cingkik goning maen pukulan betawi
si pitung itu nyata bukan legenda
si pitung jagoan betawi yang sakti mandra guna

silat beksi, silat betawi, maen pukulan betawi, silat cingkrik, silat golok seliwa, video silat beksi, jurus - jurus beksi, jurus 3 beksi, jurus 7 beksi, silat cimande, silat cikalong


Sejarah Silat BEKSI Betawi

Asal-usul ini telah direvisi susai dengan yang diceritakan oleh guru besar SILAT BEKSIkong Nur Abdul Malik.

Terdapatlah seorang Tionghoa peternak yang tinggal di daerah dadap Tangerang ( sekarang yang dikenal dengan cina benteng) bernama Lie Ceng Oek. sebenarnya keluarga Lie sendiri tidak mempunyai atau mewarisi beladiri apapun dari negeri asalanya. cerita disingkat sampai lie sedang berteduh di sebuah gua di daerah tersebut setelah selesai mengangon ternak peliharaannya ketika kala itu terjadi hujan. 

Saat berteduh lie, mendapat panggilan untuk masuk ke dalam gua tersebut,. di dalam gua lie ceng oek bertemu dengan sosok tinggi yang disebut oleh orang betawi ki idan/ ki jidan. Mulai dari situlah lie ceng oek belajar silat (meski tidak diceritakan bagaimana mulanya). setelah tamat belajar beladiri, lie ceng oek mulai membangun reputasinya di dunia persilatan yang kala itu di daerah tersebut masih banyak para pendekar dan centeng terkenal.

Nama Lie Ceng oek pun akhirnya terdengar ke seantero batavia, terlebih ketika dia berhasil menjadi seorang saudagar kaya dierahnya. Hinnga akhirnya bertemulah lie dengan Gozalih yang kala itu, diklaim sebagai pendekar silat terkenal dari salah satu aliran di betawi. kong Gozalih sendiri akhirnya belajar bie sie ( nama yang diberikan lie ceng oek kala itu) setelah ia dikalahkan oleh ceng oek. seiring dengan hal itu, kemudian juga masuk nama-nama besar yang hingga kemudian dikenal sebagai guru dari tiga guru besar BEKSI yaitu, kyai Marhali.

Nama Bie Sie sendiri akhirnya berubah menjadi BEKSI atas logat masyarakat betawi kala itu, yang berarti pertahan empat penjuru. dari kyai Marhali sendir yang akhirnya terakhir kali bertempat di daerah Benda, Tangerang, mempunyai sejumlah murid yang tiga diantaranya menjadi guru besar dan akhirnya membawa nama beksi hingga dikenal seantero jakarta.

Sejarah Silat BEKSI Betawi

Lebih lanjut BEKSI lebih dikenal dari daerah petukangan jakarta selatan dikarenakan, disitulah awal mula ketiga guru besar mengembangkan silat beksi. sementar aperguruan beksi yang berasaa darimurid kyai Marhali lainnya masih tersebar di daerah pelosok tangerang hingga cengkareng jakarta barat, yang hingga saat ini masih diajarkan secara turun temurun.

Lebih lanjut inilah para tokohnya berdasarkan generasi :

Generasi I      : Ki Jidan (Ki Iban)
Generasi II     : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Ji’ah
Generasi III    : Kong Marhali, Kong Godjalih
Generasi IV    : Kong H Hasbullah, Kong HM Nur, Kong Simin, Minggu, Salam Kalut, H Mansyur, Muhammad Bopeng
Generasi V     : Tonganih, Dimroh, HM Yusuf, HM Nuh, Sidik, H Namat, H Syahro, Mandor Simin, Umar
Generasi VI    : H Machtum, Tong tirih, H Dani, Udin Sakor, Soleh, Tholib/syaiful, dll
Generasi VII   : Abdul Aziz, Abdul Malik, HA Yani, Mftah, Nasrullah, dll

Selain itu ada beberapa nama yang belum disebutkan dari para murid Kyai Marhali lainnya, dan penerusnya hingga kini seperti Lie Jie Tong dan Nona Loen sebagai pewaris permainan senjata atau golok.

Dan adapun nama- nama jurus di perguruan Beksi kong Nur Petukangan adalah :

1.  Jurus Beksi
2.  Jurus Gedig
3.  Jurus Tancep
4.  Jurus Ganden
5.  Jurus Bandut/bandul
6.  Jurus Broneng
7.  Jurus Tingkes
8.  Jurus timpug
9.  Jurus Kebut
10. Jurus Tiga
11. Jurus Galang Tiga
12. Jurus Galang Lima

Sumber : sahabatsilat.com/forum/aliran-pencak-silat/

Popular Posts