Cerita Betawi, Kisah Dul Icong Dibantai Gerombolan Garong (Bagian-2, Tamat)

Ilustrasi Gambar

PADA zaman setelah kemerdekaan, keamanan di Jakarta sungguh mahal karena banyaknya gerombolan garong di beberapa wilayah. Namun ada satu centeng mumpuni yang sulit sekali ditaklukan oleh gerombolan garong. 

Seperti dikutip dari blog Bang Mandor, Centeng tersebut adalah Dul Icong seorang warga China yang kemudian masuk Islam. Perawakannya kecil sebagaimana leluhurnya, ia berkulit putih bersih dan bermata kubil (sipit).

Ilmu pukul Betawinya sangat mumpuni, bahkan badannya kedot alias tak mempan senjata tajam. Karena segala kelebihan itulah ia diangkat sebagai kepala centeng tuan tanah kaya raya dari Rawa Lele, Ceng Kim. 

Usman (baca: Cerita Betawi, Upacara Bebaritan atau Sedekah Bumi di Bambularangan) yang tewas oleh gerombolan garong adalah anak buah Dul Icong. Sebagaimana ahli sejarah menulis, setelah perang kemerdekaan selesai, di Jakarta khususnya, situasi keamanan belum stabil. Banyak gerombolan garong berkeliaran, umumnya mereka menggarong China kaya dan tuan tanah. 

Disamping garong ada juga tukang gedor atau gedoran. Gedoran berasal dari kata penggedoran atau bunyi pintu orang kaya yang digedor-gedor dan dirampas hartanya. 

Hasil gedoran selain uang dan perhiasan juga bahan kain batik dan belacu. Diantara garong-garong dan tukang gedor legendaris adalah Muhammad Item atau Mat Item, Ki Rabin, Ki Naja, Rajiih, Ki Nari, dan Jebul. Dari nama-nama itu hanya Ki Rabin yang masih hidup hingga saat ini. 

Kehebatan ilmu Dul Icong membuat gerombolan garong selalu gagal merampok Tuan tanah Ceng Kim. Hal ini membuat mereka menyimpan dendam dan selalu mencari cara membunuh Dul Icong. 

Pernah ada kejadian salah tembak, gerombolan garong mengira yang menjadi bandar judi sintir adalah Dul Icong ternyata malam itu Dul Icong digantikan Musa rekannya. Musa tewas ditembak garong di arena upacara bebaritan. 

Tidak kehabisan akal gerombolan garong menjebak Dul Icong dengan undangan kondangan palsu. Ditemani sepuluh orang rekannya diantaranya Ki Dadu dan Ki Sinin, Dul Icong dengan sepeda ontel berangkat ke Meruya untuk menghadiri undangan kawinan tersebut. Namun ketika melintasi Bendungan Polor rombongan Dul Icong rupanya sudah ditunggu puluhan garong yang menaruh dendam kepadanya. 

Bendungan atau Pintu Air polor terletak di Kampung Candulan, Kelurahan Petir Cipondoh Kota Tangerang. Tidak ada prasasti yang menyatakan dibangunnya, yang pasti sudah dibangun sejak zaman Belanda. 

Dahulu jalan ini adalah akses terdekat bagi orang ataupun pedagang dari Cengkareng ke arah selatan dan sebaliknya. Setelah Dul Icong ditangkap, seluruh rekannya dipersilahkan pulang. 

Menurut cerita yang diyakini masyarakat setempat, Dul Icong dibegal gerombolan Muhammad Item, yang selalu gagal masuk ke wilayah maja dan sekitarnya, terutama ke rumah Tuan Tanah Ceng Kim. 

Karena ilmu kedot yang dimilikinya Dul Icong sangat sulit dibunuh meskipun dikeroyok puluhan garong. Namun kehebatan Dul Icong berakhir setelah sebilah bambu hitam ditusukkan dari dubur menembus ke ubun-ubunnya. Mayatnya kemudian dibenamkan kedalam Bendungan Polor. Sampai hari ini mayat Dul Icong tidak pernah ditemukan.

Begitulah lelakon lama yang sudah lama hilang dan kita lupakan, upacara Bebaritan dan cerita dua bendungan alias pintu air, pintu air kampung Maja dan bendungan Polor. 

Sayang sekali salah satu kekayaan budaya yang pernah hidup ditengah-tengah masyarakat kita ini harus punah, upacara Bebaritan terakhir di adakan masyarakat Bambularangan sekitar tahun 1984 yang lalu. 

Menurut Ki Mangkat, salah seorang pelaku upacara bebaritan, salah satu penyebab hilangnya upacara ini adalah masuknya listrik ke wilayah Bambularangan, lampu penerangan jalan yang terang benderang membuat kali tidak angker lagi.

sumber : https://metro.sindonews.com/read/1235656/173/cerita-betawi-kisah-dul-icong-dibantai-gerombolan-garong-bagian-2-tamat-1504175841/13

Cerita Betawi, Upacara Bebaritan atau Sedekah Bumi di Bambularangan (Bagian ke-1)

Ilustrasi

BANYAK sekali budaya nenek moyang Betawi yang mulai ditinggalkan oleh keturunannya. Salah satunya adalah upacara Bebaritan atau upacara sedekah bumi yang biasanya dilakukan di atas jembatan beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri dan menjelang panen padi.

Upacara ini biasa dilakukan warga yang tinggal di pinggir kali agar tidak diganggu dedemit atau setan penghuni kali. Upacara ini juga biasa dilakukan warga jika ada wabah penyakit yang menyerang kampung mereka.

Dikutip dari blog Mandor Buang, pada era setelah kemerdekaan RI, warga Kampung Bambularangan, Kelurahan Pegadungan dan Cengkareng Barat, serta warga kampung tetangga biasa menggelar upacara Bebaritan agar warga tidak diganggu setan penghuni kali.

Dalam kepercayaan masyarakat Bambularangan, ada beberapa setan yang ditakuti karena kerap 'nempel' ke warga. Biasanya warga yang ketempelan ini akan kesurupan.

Beberapa setan yang cukup dikenal masyarakat sekitar Bambularangan adalah setan Usman kepala buntung, Ki Sirun, Sopiyah, setan gagu, dan setan item. Setiap setan ini memiliki riwayat sendiri yang diketahui warga sekitar.

Seperti cerita setan Usman kepala buntung. Dulunya Usman adalah seorang centeng tuan tanah di Rawa Lele bernama Ceng Kim. Usman tewas dibantai gerombolan garong yang menyatroni rumah Ceng Kim.

Usman dibunuh dengan cara mengenaskan oleh gerombolan perampok yang sangat kejam. Kemudian kepala dan tubuhnya dipisah. Kepalanya dilempar ke kali dan badannya dibuang ke sawah.

Sedangkan Ki Sirun merupakan seorang hansip dari Kampung Kapuk. Sirun tewas tenggelam ketika membuka aliran sungai agar bisa mengaliri sawah di kampungnya. Mayat Sirun ditemukan tersangkut di pintu air Haji Jaheri Kampung Maja.

Lain lagi cerita setan Sopiyah yang mayatnya ditemukan di selokan atau kali kecil anak kali Bambularangan. Kabarnya Sopiyah meninggal dunia karena penyakit ayannya kambuh saat mencuci piring dan tercebur ke selokan.

Untuk mencegah setan-setan penunggu kali itu tidak mengganggu warga kampung maka diselenggarakan upacara bebaritan. Upacara itu biasa dilakukan di kampung Maja dan gedeg wetan (jembatan beton yang dibangun di jaman Belanda) Bambularangan.      

Warga Bambularangan biasa melakukan upacara Bebaritan 2 hari setelah Lebaran dan upacara sedekah bumi tiap Jumat sore saat musim panen padi tiba.

Untuk kue-kue yang disajikan untuk upacara biasanya hasil kumpulan warga sekitar. Ada 2 orang yang ditugaskan untuk mengumpulkan kue-kue dari warga, yakni Ki Enang dan Ki Mangkat.

Dengan memikul keranjang dan kenderon, keduanya akan keliling kampung diiringi suara bedug, rebana, dan kenong yang ditabuh oleh pemuda-pemuda kampung yang mengiringi mereka. Kegiatan mengumpulkan kue dari warga ini biasa disebut Bebodoran.

Pengumpulan kue ini tidak hanya dilakukan kepada warga Bambularangan tapi juga ke tetangga kampung. Biasanya kue yang disumbangkan adalah kue khas lebaran, seperti kembang goyang, simpring, kue putu, kue satu, geplak, dodol, kue cina dan banyak lagi lainnya.

Berbarengan dengan pengumpulan kue itu, warga Bambularangan juga melakukan upacara cuci Gedeg sebelum dilakukan upacara bebaritan. Acara nyuci gedeg ini dipimpin juru kunci gedeg bernama Ki Nausin. 

Begitu kue terkumpul dan gedeg sudah bersih, kue dijejerkan di atas gedeg dengan alas tampah, piring, dan daun pisang. Setelah makanan terjejer rapi, giliran warga kampung yang duduk bersila di hadapan makanan yang berjejer itu.

Kemudian pemimpin upacara yang duduk paling ujung memulai upacara dengan tahlilan dan doa-doa. Setelah doa selesai, masing-masing orang mengambil makanan yang berada di hadapannya dan memakannya bersama-sama. Ada juga kue tujuh rupa yang diceburkan ke dalam kali. 

Upacara ini dipimpin oleh tetua kampung bernama Haji Lihun, disamping kue-kue sisa lebaran, kadang kala panitia juga menyembelih seekor kambing untuk disajikan sebagai lauk makan.

Lain di Bambularangan, lain pula di Kampung Maja. Di kampung tetangga yang terletak di sebelah barat ini, upacara diadakan sangat meriah. Upacara dipusatkan di pintu air Maja yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda. 

Seperti juga di Bambularangan, upacara Bebaritan di kampung Maja dimulai dengan permintaan logistik kebutuhan upacara. Bedanya di Kampung Maja yang diminta bukan hanya kue sisa Lebaran, tetapi juga uang. Karena upacara bebaritan di Kampung Maja, juga dipetaskan kesenian wayang kulit semalam suntuk yang disebut ngeruwat. 

Petugas pengumpul dana dan makanan adalah Mandor Saan. Sedangkan pemimpin upacara adalah tetua kampung, Ki Sinan dan Ki Saman. 

Menurut cerita Hajah Ben, istri dari Ki Sinan, jika malam tiba suasana sangat meriah banyak orang datang bukan hanya untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit, tapi juga untuk berjudi. Jenis judi yang dimainkan adalah judi sintir dan judi koprok.

sumber : https://metro.sindonews.com/read/1234146/173/cerita-betawi-upacara-bebaritan-atau-sedekah-bumi-di-bambularangan-bagian-ke-1-1503763030/13

Sejarah Rohingya, Duka Warga Tanpa Negara



Puluhan tahun sudah penduduk muslim Rohingya hidup terlunta-lunta dalam bayang-bayang ketakutan. Mereka tinggal di wilayah Arakan, bagian dari Rakhine- di Myanmar Barat yang berbatasan langsung dengan Bangladesh. 

Rohingya berasal dari kata Rohai atau Roshangee yang berarti penduduk muslim Rohang atau Roshang, sebutan untuk daerah tersebut sebelum dinamai Arakan. Sejak 1942 mereka mengalami upaya pengusiran dari wilayah Arakan. 

Saat itu terjadi pembantaian muslim Rohingya oleh pasukan pro Inggris. Sedikitnya 100 ribu muslim Rohingya tewas dan ribuan desa hancur dalam tragedi tersebut. Sejak itu muslim Rohingya hidup dalam ketakutan



Komunitas muslim mendiami wilayah Arakan (kini Rakhine) pada abad XIV. Tepatnya di Kerajaan Mrauk U yang dipimpin oleh raja Buddhis bernama Narameikhla atau Min Saw Mun. Sebelumnya, selama 24 tahun, Narameikhla diasingkan di kesultanan Bengal. Atas bantuan Sultan Bengal yang bernama Nasirudin, dia mendapatkan takhta di Arakan. 

Kesultanan Bengal adalah sebuah kerajaan Islam pada abad pertengahan yang didirikan di Bengal pada 1342. Daerah kekuasaan kesultanan ini mencakup wilayah negara Bangladesh saat ini, India bagian Timur, dan bagian Barat Myanmar. 

Setelah mendapat takhta di Arakan, Narameikhla mengucapkan Syahadat dan ganti nama jadi Suleiman Shah. Dia kemudian membawa orang-orang Bengali untuk membantu administrasi pemerintahannya. Lalu terbentuklah komunitas Muslim pertama di Arakan kala itu. 

Pada 1420, Arakan memproklamirkan diri sebagai kerajaan Islam merdeka di bawah Raja Suleiman Shah. Kekuasaan Arakan yang Islam itu bertahan hingga 350 tahun. Pada 1784, Arakan kembali dikuasai oleh Raja Myanmar. Tahun 1824, Arakan menjadi koloni Inggris. Sejak itulah populasi Islam di kawasan Arakan perlahan-lahan berkurang.

Orang Rohingya bukan satu-satunya kelompok etnis yang beragama muslim di Myanmar. Mereka ada yang keturunan Arab, Moor, Pathans, Moghuls, Bengali dan Indo-Mongoloid. 

Situasi buruk umat Islam Rohingya terjadi saat Perang Dunia Kedua saat Myanmar (Birma) dijajah Inggris. Selama pemerintahan Inggris dari 1824 -1942 Arakan diizinkan memiliki tingkat otonomi daerah sendiri. Ketika itu Arakan relatif aman dan hanya ada beberapa insiden pemberontakan yang tercatat. 

Pada 1942, pasukan Jepang menyerang Birma dan Inggris mundur sehingga menyebabkan kekosongan besar dalam kekuasaan dan stabilitas. Saat itulah terjadi kekerasan komunal antara Muslim Rakhine dan Rohingya. Terjadi pembantaian berikutnya dari kedua belah pihak sehingga memaksa Muslim Rohingya migrasi besar ke Bengal. 

Setelah Burma merdeka pada Januari 1948, ketegangan antara pemerintah dengan Muslim Rohingya berlanjut dengan gerakan politik dan bersenjata. Sekitar 13.000 orang Rohingya mencari perlindungan di kamp pengungsian India dan Pakistan. Hal inilah yang menyebabkan mereka ditolak hak warga negaranya untuk kembali ke Birma dan terjadilah penolakan terhadap Muslim Rohingya. 

Sejak periode itulah Muslim Rohingya menyandang status manusia tanpa negara. Sejak Birma merdeka pada 1948, Muslim Rohingya dikucilkan dalam hal pembangunan bangsa. Pada 1962 Jenderal Ne Win mensistematiskan penindasan terhadap Rohingya dengan membubarkan organisasi politik dan sosial mereka. 

Pasukan pemerintah Birma mengusir ribuan Muslim Rohingya secara brutal disertai pembakaran pemukiman, pembunuhan dan pemerkosaan. Warga Muslim Rohingnya melarikan diri ke Bangladesh untuk mendapatkan perlindungan. Hingga 1978 tercatat lebih dari 200 ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke negara itu. 

Upaya pengusiran Muslim Rohingya dari wilayah Arakan terus dilakukan pemerinah Birma yang kini menjadi Myanmar. Ribuan Muslim Rohingya berusaha mengungsi ke sejumlah negara. Naas tak semua negara mau menerima mereka. Bangladesh, negara tetanga terdekat juga menolak memberikan suaka kepada Muslim Rohingya. 

Data Human Right Watch menyebut antara 2012 hingga 2014 ada 300 ribu warga Muslim Rohingya terusir dari Myanmar. Tahun 2012, muncul gerakan Rohingya Elimination Group yang didalangi oleh kelompok ekstremis 969. Tak kurang dari 200 jiwa dan 140.000 warga Rohingya lainnya dipaksa tinggal di kamp-kamp konsentrasi yang tidak manusiawi.

Selama Agustus kemarin kekerasan kembali dialami Muslim Rohingya. Tak kurang sekitar 18 ribu etnis yang tidak diakui kewarganegaraannya oleh Myanmar mengungsi ke Bangladesh. Pemerintah Myanmar berdalih melakukan operasi militer setelah terjadi serangan kelompok pemberontak ARSA (Tentara Pembebasan Arakan Rohingya) pada Kamis pekan lalu ke pos-pos tentara di Rakhine.

alat musik gesek betawi Kong'ahyan Tehyan dan Sukong

Kong’ahyan, Tehyan, dan Sukong adalah alat musik tradisional Betawi (Jakarta). Alat musik ini berasal dari China yang dibawa keturunan Thiong Hua yang dahulu menetap atau singgah di Indonesia. Kebanyakan orang yang melihat alat gesek ini, yang biasa digunakan dalam kesenian gambang kromong, lenong dan ondel-ondel lebih mengenal alat musik ini dengan sebutan tehyan. Padahal yang digunakan itu adalah Kong’ahyan.


Apa yang membedakan Kong’ahyan, Tehyan dan Sukong?
Ø  Kong’ahyan mempunyai ukuran tempurung(batok) kelapa yang berukuran kecil dengan nada dasar D yang ( disebut sebagai melodi )
Ø  Tehyan mempunyai ukuran tempurung(batok) kelapa berukuran sedang dengan nada dasar A ( disebut juga rythem )
Ø  Sukong mempunyai ukuran tempurung(batok) kelapa yang berukuran paling besar dengan nada dasar G ( disebut juga sebagai bass )
 
Saat ini kebanyakan kita temui di acara-acara panggung kesenian gambang kromong, lenong  dan ondel-ondel adalah Kong’ahyan, tapi orang-orang lebih mengenal dengan sebutan tehyan.  Sedangkan tehyan dan sukong kita hanya bisa menjumpai didaerah betawi pinggiran yaitu daerah taggerang karena disana masih ada seniman-seniman yang menggunakan 3 alat musik itu dalam kesenian gambang kromong.

Mengenal Musik Marawis Indonesia

Mengenal Musik Marawis Indonesia

Mengenal Musik Marawis Indonesia

Marawis merupakan salah satu jenis "band tepuk" dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi, dan memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Kesenian ini telah berusia kurang lebih 400 tahun yang semula berasal dari kawasan Kuwait, mula2 alat ini hanya terdiri dari 2 jenis alat permainan saja yaitu hajer dan marawis dengan ukuran yang tidak seperti saat ini kita lihat, melainkan semacam sebuah rebana dengan berukuran cukup besar yang kedua sisinya dilapisi oleh kulit binatang.


Kesenian ini hampir identik dengan dengan kesenian Islami karena setiap Syair yang dibawakan mengandung puji2an kepada Rasulullah beserta keluarga, para Wali dan Permohonan doa kepada Allah SWT. kesenian ini sering kali dimainkan pada saat perayaan keagamaan tertentu, yaitu Perayaan perkawinan, Maulid nabi saw, Khitanan, dsb.



Marawis di Indonesia

Mengenai Sejarah masuknya kesenian Ini ke Indonesia, pertama kali kesenian ini dibawa oleh para Ulama Hadramout (yaman) yang berdakwah ke Indonesia dan dipentaskan pertama kali di Kota Madura, hal ini terjadi akhir abad ke 19 M. selain di Kota madura kesenian ini juga dibawa ke daerah Bondowoso (kawasan kecil yang terletak di ujung timur Propinsi Jawa Timur) dan kesenian ini menjadi popluer di kota Bondowoso karena antusias masyarakat di Bondowoso yang ingin mempelajari dan menekuni kesenian ini. sehingga sampai saat ini Diakui oleh seluruh pemerhati kebudayaan Hajaer marawis bahwa Kesenian Marawis Pupoler pertama kali di Bondowoso.

Secara Umum Alat Musik MArawis Terdiri dari:
1. Kepak Marawis
Mengenal Musik Marawis Indonesia-kepak-marawis-ukir.jpg
Merupakan gendang kecil berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm. Alat ini terbuat dari kayu yang bagian tengahnya dilubangi dalat inilah yang menjadi ciri khas dari musik jenis ini, sehingga musik jenis ini pun disebut dengan Marawis.
2. Hajir disebut juga hajir marawis
Mengenal Musik Marawis Indonesia-hajir-marawis-ukir.jpg
Merupakan sebuah Gendang yang berukuran diameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 cm, Alat ini terbuat dari kayu yang bagian tengahnya dilubangi sehingga berbentuk mirip sebuah tabung. Kedua bagian ujungnya ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai selaput / memberan. Adapun kulit binatang yang biasa digunakan adalah kulit kambing atau domba.
3. Dumbuk Pinggang
Mengenal Musik Marawis Indonesia-tumbuk-pinggang-batik-merah.jpg
Dumbuk merupakan alat musik sejenis gendang yang berbentuk mirip dandang, Bagian tengah dan kedua ujungnya memliki diameter yang berbeda - beda, diameter terbesar pada ujung yang detutup dengan selaput/membrean dari mika, kemudian disusul bagian ujung yang terbuka, sedangkan pada bagian tengah memiliki diameter terkecil. adapun disebut dumbuk pinggang karena dalam penggunaannya alat ini diletakkan di pinggang.

4. Dumbuk Batu
Mengenal Musik Marawis Indonesia-tumbuk-batu-batik-biru.jpg
Bentuk alat ini mirip dengan dumbuk pinggang, hanya saja mempunyai ukuran yang sedikit lebih besar. adapun disebut dumbuk batu karena konon pada awalnya terbuat dari batu.

5. Simbal dan Tamborin
Kadang kala musik marawis dilengkapi dengan tamborin atau krecek dan [Symbal] yang berdiameter kecil dimana kedua alat ini digabungkan menjadi satu kesatuan

Seiring dengan perkembangan musik marawis di tanah air, yang berarti semakin banyak peminat dan pecinta musik ini dan semakin banyak pula group-group marawis yang bermunculan dari berbagai kalangan masyarakat di seluruh wilayah nusantara. Hal tersebut menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan/permintaan alat musik marawis ini.

Untuk memenuhi kebutuhan / permintaan tersebut, maka para pengrajin alat musik pun berusaha untuk meningkatkan hasil produksinya baik dari segi kuantitas maupun kualitas termasuk dengan cara memadukan unsur seni dan keindahan antara lain seni batik, seni ukir dan lainnya. Sehingga berdasarkan proses pembuatannya maka muncullah jenis - jenis motif sebagai berikut:

  • Marawis Polos ( warna natural)
  • Marawis Batik dengan Kulit polos
  • Marawis Batik dengan kulit di lukis
  • Marawis Ukir

Sumber bacaan

alat musik marawis, apa itu marawis, musik marawis, cara bermain marawis, pengertian marawis 

Silat Cingkik Goning ( Maen Pukulan Betawi )

Silat Cingkik Goning ( Maen Pukulan Betawi )
Pencak silat Cingkrik, adalah salah satu seni beladiri Indonesia asli, yang telah berumur bertahun-tahun dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi kegenerasi berikutnya.
Cingkrik, adalah salah satu Aliran silat Betawi.  Lantaran beberapa gerakannya adalah berlompat lompatan dengan satu kaki, orang Betawi menyebutnya jejingkrikan,
lantas kemudian silat ini pun disebut Jingkrik, Cingkrig atau Cingkrik.

Engkong Goning, nama aslinya adalah Ainin Bin Urim.  Beliau adalah seorang pejuang kedoya kebon jeruk Jakarta Barat, serta pewaris dan penerus silat Cingkrik.  Beliau lahir sekitar tahun 1895 dan meninggal sekitar tahun 1975 pada umur 80 tahun.  Beliau sering dipanggil “Nin” (berubah bunyi menjadi “Ning”)
dan ditambah kata “GO”  di depan kata Ning (kata ledekan anak-anak Betawi), jadi “GONING”
Menurut penjelasan dari Haji Husien (anak kedua dari Kong Goning), bahwa Beliau sering pergi ke daerah Marunda (Cilincing Tanjung Priok)
tempat dimana Bang Pitoeng jaya pada zamannya.
Beliau pulang ke Kedoya dari Marunda 2, 3 sampai 4 hari lamanya (tidak dijelaskan apa tujuannya).
Beliau mempunyai 4 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan.
Nama anak laki-laki beliau adalah :
1. Kosim (Almarhum)
2. Haji Husien
3. Haji Sa’adih
4. Haji Arsyad Jago/Mandor (Almarhum)
Dan beliau juga mempunyai seorang murid yang bernama Engkong Usup Utay.
Engkong Usup Utay
Engkong Usup Utay Bin Tohir,beliau adalah murid dari Engkong Goning.
Beliau lahir sekitar tahun 1927 serta meninggal sekitar tahun 1993 pada umur 66 tahun.
Beliau mempunyai murid yang bernama TB. Bambang Sudrajat dari daerah Grogol yaitu Babeh Tb. Bambang Sudrajat
1-guru-besar.jpg
Babeh Tb. Bambang Sudrajat, Adalah murid dan menantu dari Engkong Usup UtaY sekaligus merupakan Ahli Waris dan Penerus dari Aliran Silat Cingkrik Goning melalaui jalur keilmuan Engkong Usup Utay
Babeh Tb. Bambang Sudrajat, belajar sejak tahun 1966. Kala itu ia berumur 11 tahun.
Waktu itu Ia melihat tukang bambo dari daerah rempoa belajar silat dengan Engkong Usup Utay,
Karena setiap hari Babeh Bambang datang ke tempat latihan,
maka oleh Engkong Usup Utay ia di tanya apakah ia mau belajar silat?… Babeh Bambang menjawab mau.
Kemudian oleh Engkong Usup Utay Babeh Bambang disuruh untuk meminta izin dari orang tuanya.
Setelah itu mulailah Babeh Bambang belajar silat dengan Engkong Usup Utay.
Sampai akhirnya Babeh Bambang menikah dengan putri Engkong Usup Utay yang bernama Ibu Yani.
Babeh Bambang sendiri telah belajar lama …. sampai Engkong Usup Utay meninggal dunia.
Tapi sebelum meninggal beliau berpesan kepada Babeh Bambang jangan sampai mati obor (punah-red).

Demikian sejarah singkat mengenai asal-usul Perguruan Silat Cingkrik Goning ini,
dan mudah-mudahan menambah wawasan dan pengetahuan serta bermanfaat bagi kita semua
sumber : https://cingkrikgoning.wordpress.com/about/
silat betawi
silat asli betawi
jurus silat betawi
beksi betawi
silat seliwa betawi
silat cingkrik betawi
maen pukulan betawi
sejarah silat beksi
sejarah silat cingkrik

Maen Pukulan Betawi ( Silat BEKSI )



Dari Sekian Banyak Aliran "Maen Pukulan Betawi" salah satunya adalah BEKSI
lmu Bela Diri BEKSI adalah ilmu bela diri yang memadukan antara seni, keindahan, ketepatan dalam mencapai sasaran, kekuatan, kecepatan serta kedinamisan dalam gerak dan olah pukul yang serta sikut yang keras. Kesemuanya itu terangkum dan tertata secara apik melalui dimensi gerak, pukulan serta sikut yang keras yang merupakan ciri khas tersendiri yang membedakan ilmu bela diri BEKSI dengan ilmu bela diri lainnya. 

ASAL-USUL SILAT BEKSI
Seni budaya beladiri yang oleh orang betawi disebut maen pukulan Beksi lahir dari kemampuan orang terpilih yang tiada hentinya melatih kepekaan inderawi, mengolah kelebihan atau kelenturan anatomi tubuh dan belajar sebanyak mungkin dari pertanda alam seperti riak sungai, hembusan angin, gerak dan laku macan, monyet, kelabang, belalang,dst (hal 19).
Menurut buku ini, asal usul beksi ada beberapa versi.
Versi pertama. Versi ini dikisahkan oleh seorang sesepuh Beksi: H Atang Lenong (usia 84 tahun ketika wawancara tahun 2001). Beksi mulai muncul ke permukaan dalam kurun pertengahan abad 19 sekitar tahun 1850-1860-an. Pada masa ini ada seorang tuan tanah di daerah tangerang bernama Gow Hok Boen yang tinggal di kampung kosambi. Tuan tanah ini kebetulan gemar akan beladiri dan menguasai ilmu kuntao atau kungfu. Orang local tangerang mengenal Gow Hok Boen sebagai Tuan tanah kedaung. Sebagai tuan tanah, Tuan Gow punya sekian banyak centeng untuk membantunya. Kepala centengnya bernama Ki Kenong yang memiliki ilmu beladiri yang tinggi dan dicampur dengan ulmu sihir yang dahsyat. Tertarik dengan beladiri, Tuan tanah ini mengadakan sayembara untuk mencari jagoan yang lebih hebat dari kepala centengnya dan mendapat kedudukan menggantikan jabatan sebagai kepala centeng. Maka setiap malam minggu diadakan pibu alias duel dengan banyak jagoan yang mau mengadu ilmu dan keberuntungan dengan melawan Ki Kenong. Namun dari sekian banyak penantangnya belum ada satunpun yang berhasil mengalahkan Ki Kenong. Tersebutlah ada seorang tukang singkong rebus (disebut ancemon atau singkong urap) bernama Pak Jidan yang setiap malam menjual singkong di tengah keramaian pertunjukan duel ini. Pak Jidan mengambil singkong dari hutan dekat tempat tinggalnya dan singkong tersebut tidak habis-habis dan seperti ada yang memelihara, namun karena di hutan Pak Jidan tidak ambil pusing. Suatu sore, ketika pak Jidan beristirahat di rumahnya dia didatangi oleh soerang pemuda yang protes karena singkong yang dia tanam dan pelihara di hutan diambil oleh pak jidan. Karena tidak tahu pak Jidan pun minta maaf. Melihat keluguan dan kekjujuran pak Jidan serta hidupnya yang miskin, orang misterius itu menawarkan untuk membantu pak Jidan dengan memberi pelajaran maen pukulan, tidak peduli waktu itu pak jidan sudah berumur sekitar 60-an. Singkat kata, Pak jidan menerima pelajaran maen pukulan sebanyak 8 jurus dan tiga atau empat lagi belum diajarkan, yang akan diajarkan oleh orang lain. Sebelum pergi orang misterius itu minta kemenyan dan berpesan bahwa dia bisa dipanggil jika pak jidan memerlukan dengan membakar kemenyan dan membaca mantra. Ketika orang itu epergi, Pak Jidan melihat ekor macan tersembul dari balik jubahnya danjuga tengkuknya terlihat loreng-loreng seperti layaknya kulit harimau. Pak jidan pun terkejut dan maklum bahwa dia dikunjungi dan diajari maen pukulan oleh Ki Belang atau Siluman Macan Putih. Malam selanjutnya, pak Jidan berjualan seperti bias adi tengah pentas duel. Disebabkan karena jengkel dengan jagoan-jagoan yang tidak bayar sewaktu makan singkong daganganya, PaK Jidan menedang keranjang dagangannya dan melayang masuk ke tengah gelanggang. Tuan tanah Gow pun marah dan menyuruh orang menyeret Pak Jidan tengah arena dan memaksanya bertarung dengan Ki Kenong. Di luar dugaan, Pak Jidan mampu mengalahkan di Kenong dengan ilmu yang diajarkan oleh Ki Belang itu. Menurut legenda, dengan jurus baroneng Pak Jidan melumpuhkan ilmu Ki Kenong yang terkenal dengan ‘pukulan tangan berapi’. Ketika ditanya oleh Tuan Gow tentang ilmu yang dipakai oleh Pak Jidan, dia tidak tahu apa namanya. Lalu tuan Gow Hok Boen menyebutnya Beksi artinya pertahanan empat mata angin. Sejak itu terkenallah Pak Jidan—yang diangkat sebagai kepala pengawal keamanan-- dengan ilmu beksinya.

Versi kedua diceritakan oleh H Mahtun (lahir di petukangan 1945). Alkisah di kampung bagian timur tangerang hiduplah seorang laki-laki yang mahir beladiri bernama Raja Bulu berusia sekitar 63 tahun yang hidup berdua dengan anaknya yang gagu (bisu), istrinya sudah meninggal dunia. Kehidupan Raja Bulu berkecukupan dengan pekerjaan mengajar silat dari kampong ke kampong. Si anak sendiri tidak mau belajar silat pada bapaknya. Suatu ketika Raja bulu bertanya pada anaknya mengapa dia tidak mau belajar maen pukulan. Dan jawabannya sungguh mengejutkan: karena di anak belum tentu kalah dalam sambut-pukul dengan Raja Bulu. Si ayah lalu mengetes dan terjadilah pertarungan dan menjadi keteter atau kewalahan menghadapi ilmu anak bisu. Akhirnya si anak mengaku bawah selama ini dia belajar maen pukulan di hutan dan dilatih oleh siluman mcan putih. Karena belum ada nama, Raja bulu menyebut ilmu yang dikuasai oleh anaknya : Beksi: sebab seperti segi empat dengan empat arah . Sejak itu Raja Bulu pun belajar pada anaknya dan ilmu ini pun diajarkan ke murid-muridnya.demikian beksi pun berkembang.
Dalam perkembangan selanjutnya para pendekar Beksi memberi banyak makna pada ilmu maenpukulan ini.

Ada yang menartikannya BEKSI= "Berbaktilah Engkau pada Sesama Insan".
Asal usul di atas merupakan folklore, ceira rakyat berisi legenda yang didalamnya terdapat kenyataan dan juga legenda.

TOKOH-TOKOH BEKSI
Hampir semua aliran beksi mengakui bahwa yang mengajarkan pertama-tama ilmu beksi adalah Ki Kidan ( Ki Iban) dan atau Raja Bulu.
Lebih lanjut inilah para tokohnya berdasarkan generasi:

Generasi I : Raja Bulu dan Ki Jidan (Ki Iban)
Generasi II : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Jiah
Generasi III :Kong Marhali, Nyi Mas Melati, Kong Godjalih
Generasi IV : Kong H Hsabullah, Kong HM Nur, Kong Simin, Minggu, Salam Kalut, H Mansyur, Muhammad Bopeng
Generasi V : Tonganih, Dimroh, HM Yusuf, HM Nuh, Sidik, H Namat, H Syahro, Mandor Simin, Umar
Generasi VI :H Machtum, Tong tirih, H Dani, Udin Sakor, Soleh, Tholib/syaiful, dll
Generasi VII : Abdul Aziz, Abdul Malik, HA Yani, Mftah, Nasrullah, dll

Ki Iban/Raja Bulu memiliki murid yaitu : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Jiah
Yang belajar pada atau menjadi murid dari Ki Ceng Ok yaitu : Kong Godjalih, Kong Marhali. Sedangkan Nyimas Melati berguru pada Ki Dalang Jiah.
Para murud dari Ki Ceng Ok terus menerus menyebarkan Beksi hingg ke Jakarta dan tempat lain. Mereka dikenal denga sebutan Beksi empat serangkai yakni : Kong Jali, Kong Has, Kong Nur dan Kong Simin.

JURUS-JURUS DAN BELAJAR BEKSI
Jurus-jurus Beksi terkenal dengan keras, cepat, ringkas danemngarah pada tempat-temapt yang mematikan pada tubuh. Sebelum mempelajari jurus, murid biasanya mengikuti syarat penerimaan siswa yang disebut rosulan atau ngerosul; berupa tawasul disertai zikir tahlil memanjatkan doa Pada Allah agar dalam mempelajari beksi diberi keridlaan, kekuatan, ketabahan dan kesabaran.
Dalam permaian jurus, ada banyak melakukan gedi (hentakan kaki ke lantai) dan gerakan tangan yang sangat cepat. Oleh sebab itu dianjrukan untuk melotot dan tidak berkedip dalam melihat gerak lawan.

Cara belajar -mengajar beksi :
Diperkenalkan jurus. Murid menirukan disebut juga : asal tau jalan Tuntun. Latihan gerak bela yang dituntun oleh guru dengan teknik dan aplikasi jurus Sambut. Murid tanding dengansesama murid atau guru dengan menggunakan jurus. Secara fundamental ada 12 jurus dalam beksi dibeberapa tempat disebut dengan nama yang berbeda.

NAMA-NAMA JURUS BERDASARKAN DAERAHNYA:

DAERAH I
Jurus Beksi
Jurus Gedig
Jurus Tancep
Jurus Cauk
Jurus Broneng
Jurus Bandut
Jurus Beksi Satu
Jurus Silem
Jurus lokbe
Jurus Bolang Baling
Jurus Janda Berias
Jurus Panca Lima

DAERAH I I
1. Jurus Beksi
2. Jurus Gedig
3. Jurus Tancep
4. Jurus Ganden
5. Jurus Bandut/bandul
6. Jurus Broneng
7. Jurus Tingkes
8. Jurus Rusia Pecah Tiga
9. Jurus Bolang Baling
10. Jurus Gebal
11. Jurus Kebut
12. Jurus Petir

DAERAH III
Jurus Beksi
.Jurus Gedig
.Jurus Tancep
.Jurus Ganden
.Jurus Bandut/bandul
.Jurus Broneng
.Jurus Tingkes
.Jurus timpug
.Jurus Kebut
.Jurus Tiga
.Jurus Galang Tiga
.Jurus Galang Lima

DAERAH IV
Jurus Beksi
.Jurus Gedig
.Jurus Tancep
.Jurus Ganden
.Jurus Kebut
.Jurus Broneng
.Jurus Beksi Satu
.Jurus Ganden Susun
.Jurus Tingkes
.Jurus Silem
.Jurus Timpug
.Jurus Tunjang/Petir

Pelajaran senjata juga diberikan yaitu ilmu golok yang terdiri dari dua jurus yaitu jurus golok satu dan dua. Jurus golok satu dipecah lagi jadi jurus satu hingga jurus tujuh. Sedangkan jurus golok dua dipecah menjadi 2 jurus yaitu jurus satu dan dua.Kombinasi jurus baik tangan kosong maupun golok sangat sanagt penting dalam beksi sehingga bisa bercipata berbagai jurus lagi misalnya : Jurus bandut tepuok, jurus bandut galang, dll.

“Lu jual gue beli !!
“Lu jangan amen pukul aje, maen hakin sendiri. Pakelah ilmu padi, mangkin berisi mangkin merunduk

BACA JUGA : silat cingkik goning maen pukulan betawi
si pitung itu nyata bukan legenda
si pitung jagoan betawi yang sakti mandra guna

silat beksi, silat betawi, maen pukulan betawi, silat cingkrik, silat golok seliwa, video silat beksi, jurus - jurus beksi, jurus 3 beksi, jurus 7 beksi, silat cimande, silat cikalong


ALAT MUSIK TIFA

Tifa, Alat Musik dari Papua

Tifa adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, Tifa mirip seperti gendang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. tiap suku di maluku dan papuamemiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.

Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. rian ini biasanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.
Tifa, Alat Musik dari Papua (Gambar 1) Tifa, Alat Musik dari Papua (Gambar 2) Tifa, Alat Musik dari Papua (Gambar 3)

Rumah Seni dan Pusat Budaya Betawi


Lenong Betawi | Palang Pintu | Hadroh | Marawis | Seni Tari Betawi | Bela Diri Betawi. Jl Kapuk Raya Pertigaan Metro RT 06/011 Kelurahan Kapuk KEcamatan Cengkareng No 132 Telp 0856 9728 3980 – 0823 1066 9064

cropped-Seni-Bela-Diri-Betawi.jpgBicara soal betawi tidak lepas bicara soal seni bela dirinye… bukan soal jago jagoan namun kita bicara mengenai nilai nilai dari seni bela diri itu sendiri…. Kisah jawara jawara tidak semua berkonotasi negatif namun juga sang jawara memiliki nilai history yang dalam buat sumbangsih negeri ini. Sebut saja Si Pitung dari Rawa Belong si Ronda… dll yang keberadaan mereka punya arti penting buat asyarakat betawi terutama dengan perlawanan terhadap penjajah…… Seni Bela Diri ini mengalami banyak sekali metamorfosis dalam perjalanannya sehingga memunculkan banyak sekali aliran dan perguruan perguruan silat baru .. sebut saja ada Beksi, Si LIWA, Cingkrik, Benang kusut dll Rumah Seni Betawi memberikan kesempatan bagi generasi muda yang ingin mempelajari seni bela diri betawi untuk dateng ….

Gebyar Budaya Betawi Kapuk

Gebyar Budaya Betawi

Rumah Seni Betawi mempersembahkan festival budaya betawi yang pertama kali dilaksanakan. Acaranye diadain pada tanggal 24 Agustus 2014 dan dimeriahkan beberapa acara diantaranye
  • Lenong Betawi dengan Lakon si Romli dan Romlah
  • Marawi dan Hadroh
  • Pantun Betawi
  • Pertunjukkan Seni Bela Diri
  • Gambang Keromong
Acaranye menjadi ajang silaturahmi seluruh warga betawi Cengkareng sekaligus silaturahmi perguruan silat se Cengkareng dan sekitarnye. Dijamin Acaranye ruamme banget dah semoga tahun depan bisa dilaksanakan lebih gede lagi…..

sumber : http://rumahsenibetawi.com/

Popular Posts